Risiko Karhutla Meningkat, BMKG Temukan Puluhan Hotspot

  • 17 Mar 2026 20:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sejumlah titik panas di Jambi juga terdeteksi berada di kawasan industri
  • Karhutla di Aceh dan Jambi
  • Kebakaran HUtan dan Lahan di Aceh

RRI.CO.ID, Aceh - BMKG melaporkan temuan puluhan titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah Indonesia yang mengindikasikan meningkatnya potensi karhutla. Di Provinsi Aceh, BMKG mencatat sebanyak 34 titik panas terdeteksi 16 Maret 2026.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, Besti, mengatakan, hotspot terdeteksi berdasarkan pemantauan satelit sepanjang pukul 00.00 hingga 23.00 WIB. “Berdasarkan hasil pemantauan sensor satelit, terdapat 34 titik panas yang tersebar di sejumlah wilayah di Aceh,” ujarnya kepada RRI.

Titik panas tersebut terpantau di sejumlah daerah seperti Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Selatan, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara. Lalu Aceh Jaya, Kota Lhokseumawe, dan Subulussalam, dengan konsentrasi tertinggi di Aceh Timur dan Aceh Utara.

Pemantauan dilakukan menggunakan sensor MODIS dari satelit Terra, Aqua, Suomi NPP, serta sensor VIIRS dari NOAA-20. Sementara itu, di Provinsi Jambi, BMKG juga mencatat jumlah yang sama yakni 34 titik panas.

Terdeteksi pada 12 Maret 2026 dalam rentang waktu pukul 12.00 hingga 16.00 WIB. Sebaran hotspot di Jambi meliputi wilayah Muaro Jambi, Batanghari, Sarolangun, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Tebo, hingga Kota Jambi.

BMKG menyebut seluruh titik panas di Jambi berada pada tingkat kepercayaan kategori sedang. “Tingkat kepercayaan hotspot dibagi menjadi tiga kategori,” demikian penjelasan BMKG.

"Yakni rendah dengan persentase 0 hingga 29 persen, sedang 30 hingga 79 persen. Serta tinggi pada kisaran 80 hingga 100 persen."

Sejumlah titik panas di Jambi juga terdeteksi berada di kawasan industri, termasuk di sekitar sumur minyak di Muaro Jambi dan Tanjung Jabung. BMKG menegaskan bahwa hotspot merupakan indikator awal karhutla yang masih memerlukan verifikasi lapangan untuk memastikan adanya kebakaran.

Di sisi lain, kondisi cuaca di Aceh yang cenderung cerah berawan dengan suhu mencapai 32 derajat Celcius turut meningkatkan risiko kebakaran. “Banyaknya titik panas ini menjadi sinyal waspada bagi masyarakat mengingat kondisi cuaca yang kering dan dominan cerah.” Prakirawan BMKG Malikussaleh, Febrianto.

Meski demikian, kondisi perairan di wilayah Aceh dinilai relatif aman untuk aktivitas melaut dengan gelombang rendah berkisar 0,1 hingga 0,7 meter. Namun, potensi karhutla tetap menjadi perhatian utama di tengah kondisi cuaca kering tersebut.

Febrianto mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. “Masyarakat tidak membuang puntung rokok sembarangan dan tidak meninggalkan lokasi saat sedang membakar sampah,” ujarnya.

Ia juga menegaskan agar tidak ada pembakaran lahan secara sengaja, terutama untuk pembukaan lahan baru. BMKG secara nasional mengimbau seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah pencegahan dini guna meminimalisir risiko karhutla di berbagai daerah.

Rekomendasi Berita