Peneliti BRIN Ungkap Ada Potensi Perbedaan Hari Raya Idulfitri 2026
- 16 Mar 2026 13:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Penentuan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah berpotensi berbeda antara pemerintah dan Muhammadiyah pada 2026. Perbedaan tersebut dipicu penggunaan metode dan kriteria penentuan awal bulan Hijriah yang tidak sama.
"Pada saat Maghrib 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara posisi hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS. Maka 1 Syawal 1447 jatuh pada 21 Maret 2026," kataPeneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin dikutip dari tulisan dalam blog pribadinya, Juni 2025 lalu.
Kriteria Forum MABIMS menetapkan tinggi hilal minimal tiga derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Ketentuan tersebut digunakan dalam penentuan awal Ramadan, Syawal, maupun bulan Hijriah lainnya.
Thomas menjelaskan hasil berbeda bisa muncul jika menggunakan kriteria lain seperti yang diterapkan Turki. "Maka menurut kriteria Turki, 1 Syawal 1447 = 20 Maret 2026," ucap Thomas.
Sementara, data pengamatan hilal dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan posisi hilal belum sepenuhnya memenuhi kriteria MABIMS. Tinggi hilal saat Matahari terbenam diperkirakan berkisar antara 0,91 derajat di Merauke hingga 3,13 derajat di Sabang.
Elongasi geosentris pada waktu yang sama diperkirakan berada di rentang 4,54 hingga 6,1 derajat. Selain itu, pengamat juga perlu memperhatikan potensi gangguan objek astronomi lain saat proses rukyat.
Jika hilal tidak terlihat pada 19 Maret 2026, maka bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari. Dengan kondisi tersebut, Idulfitri diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026.
Thomas menilai potensi perbedaan penetapan awal bulan Hijriah di Indonesia masih cukup besar. Hal itu terjadi karena perbedaan kriteria yang digunakan oleh pemerintah dan organisasi keagamaan.
Di sisi lain, Muhammadiyah telah menetapkan awal Syawal lebih awal menggunakan metode hisab. Organisasi tersebut menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada 20 Maret 2026.
"Penggunaan KHGT yang secara resmi akan dimulai pada 1447/2025. Ini berpotensi makin sering terjadi perbedaan awal Ramadan, Syawal, atau Idul Fitri," kata Thomas dalam tulisan tersebut.
Penetapan tersebut didasarkan pada sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KGHT) yang digunakan Muhammadiyah. Sistem ini merujuk pada pendekatan kalender global yang juga diterapkan di Turki.
Pemerintah sendiri akan menetapkan tanggal resmi Idulfitri melalui sidang isbat yang digelar Kementerian Agama. Sidang isbat penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah rencananya akan dilaksanakan pada Kamis, 19 Maret 2026.