Simak Sejarah Sidang Isbat Penentu Lebaran di Indonesia
- 16 Mar 2026 11:13 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah pada Kamis, 19 Maret 2026. Sidang tersebut menjadi momen penting untuk menetapkan secara resmi Hari Raya Idulfitri bagi umat Islam di Indonesia.
Sidang isbat merupakan mekanisme resmi pemerintah untuk menentukan awal bulan hijriah penting. Penetapan ini biasanya terkait dengan awal Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha.
Mengutip dari laman Kemenag RI, tradisi sidang isbat di Indonesia memiliki sejarah panjang sejak masa awal berdirinya kementerian agama. Kewenangan penetapan hari raya sebenarnya sudah diatur sejak masa awal kemerdekaan.
Pada 1946, pemerintah mengeluarkan regulasi terkait penetapan hari raya melalui Penetapan Pemerintah Nomor 2/Um. Aturan tersebut ditandatangani oleh Presiden Soekarno dan Menteri Agama pertama H. Rasjidi.
Regulasi tersebut memberi kewenangan kepada Menteri Agama untuk menetapkan hari raya setiap tahun. Penetapan ini dilakukan setelah mempertimbangkan berbagai aspek keagamaan.
Awal Mula Sidang Isbat
Sidang isbat untuk menentukan awal Ramadan dan Idulfitri mulai dikenal sejak dekade 1950-an. Beberapa sumber menyebut praktik ini mulai dilakukan secara resmi sekitar tahun 1962.
Dalam sidang tersebut, para ulama dan pakar falak memaparkan hasil perhitungan serta pengamatan hilal. Pendapat organisasi-organisasi Islam juga menjadi bahan pertimbangan sebelum keputusan diambil.
Pengumuman hasil sidang isbat biasanya disampaikan langsung oleh Menteri Agama. Momen ini selalu dinantikan masyarakat karena menentukan waktu pelaksanaan ibadah penting.
Peran Badan Hisab dan Rukyat
Pada awal 1970-an, pemerintah memperkuat mekanisme penentuan awal bulan hijriah dengan membentuk badan khusus. Lembaga tersebut dikenal sebagai Badan Hisab dan Rukyat.
Badan ini dibentuk melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 76 Tahun 1972. Tugasnya membantu pemerintah menentukan hari-hari besar Islam secara ilmiah.
Badan tersebut pertama kali dipimpin oleh ahli falak terkenal Sa'adoeddin Djambek. Anggotanya berasal dari ulama, akademisi, dan perwakilan organisasi Islam.
Selain menentukan awal Ramadan dan Syawal, badan ini juga berperan menjaga persatuan umat Islam. Tujuannya agar perbedaan metode hisab dan rukyat tidak memicu perpecahan.
Metode Penentuan Awal Bulan
Dalam praktiknya, penentuan awal bulan hijriah di Indonesia menggunakan dua pendekatan utama. Metode tersebut adalah hisab atau perhitungan astronomi dan rukyat atau pengamatan hilal.
Kedua metode ini telah lama digunakan dan berkembang dalam tradisi keilmuan Islam. Sidang isbat menjadi forum yang mempertemukan hasil perhitungan ilmiah dengan laporan rukyat.
Penetapan awal Ramadan dan Idulfitri melalui sidang isbat juga diperkuat oleh fatwa Majelis Ulama Indonesia. Fatwa tersebut menegaskan bahwa keputusan pemerintah berlaku secara nasional.
Dengan sejarah panjang tersebut, sidang isbat menjadi bagian penting dalam kehidupan keagamaan masyarakat Indonesia. Mekanisme ini diharapkan terus menjaga kepastian waktu ibadah sekaligus memperkuat persatuan umat.