Analis: Guncangan Energi Timteng Ubah Prospek Ekonomi Global
- 17 Mar 2026 14:24 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Harga Minyak Brent Melonjak 40 Persen Akibat Konflik di Timur Tengah
- Guncangan Energi Berisiko Picu Inflasi Global dan Kebijakan Suku Bunga
- Eropa Lebih Rentan Terkena Dampak Ekonomi Dibandingkan Amerika Utara
RRI.CO.ID, Washington — Krisis di Timur Tengah memicu kekhawatiran luas di pasar global, terutama terkait potensi guncangan energi. Hal tersebut dapat berdampak besar terhadap perekonomian dunia, dilansir dari Xinhua, Selasa, 17 Maret 2026.
Para analis menilai, dampak krisis tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga berpotensi mengubah prospek ekonomi global lebih mendalam. Harga minyak melonjak tajam saat pasar dibuka, didorong oleh meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.
Minyak mentah jenis Brent crude tercatat naik lebih dari 2 persen, sementara West Texas Intermediate juga mengalami kenaikan signifikan. Bahkan, harga Brent telah melonjak lebih dari 40 persen sejak akhir Februari, menyusul serangan terhadap Iran.
Kenaikan harga ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi, terutama di Selat Hormuz. Selain itu, serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan turut memperburuk situasi dan meningkatkan risiko terhadap pasokan global.
Para analis memperingatkan bahwa guncangan energi ini dapat memicu lonjakan inflasi di berbagai negara. Jika harga energi tetap tinggi, tekanan inflasi diperkirakan akan meningkat dan memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga di masa depan.
Waktu terjadinya krisis ini juga dinilai sangat sensitif, mengingat sejumlah bank sentral besar dunia tengah bersiap menggelar pertemuan penting. Keputusan dari bank-bank sentral tersebut akan menjadi indikator awal dalam menilai dampak ekonomi dari krisis Timur Tengah.
Dampak inflasi akibat guncangan energi diperkirakan tidak merata di seluruh wilayah. Eropa dinilai lebih rentan dibandingkan Amerika Utara karena ketergantungannya yang lebih tinggi terhadap energi impor.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik juga memengaruhi perilaku pasar keuangan global. Investor cenderung menuntut premi risiko lebih tinggi ketika ketidakpastian meningkat, akhirnya dapat memengaruhi penilaian aset di berbagai sektor.
Dampak krisis ini juga diperkirakan berbeda di setiap industri. Sektor energi, pertahanan, dan kedirgantaraan berpotensi mendapat keuntungan dari meningkatnya permintaan.
Sementara itu, sektor seperti pariwisata, logistik, dan real estat berisiko menghadapi tekanan. Di sisi lain, perubahan dalam pola investasi global juga mulai terlihat.
Negara-negara berkembang dengan pasar domestik besar dan prospek pertumbuhan yang kuat berpotensi menarik lebih banyak investasi jangka panjang. Hal ini terjadi seiring upaya investor global melakukan diversifikasi di tengah meningkatnya ketidakpastian.