Puluhan Ribu Pelajar di Bandung Alami Stres Ringan hingga Depresi Berat

  • 03 Mar 2026 20:09 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota Bandung mengungkap hasil survei kesehatan mental terhadap pelajar tingkat SD hingga SMA di Kota Bandung yang menunjukkan sebanyak 75 ribu anak mengalami stres ringan hingga depresi berat. Temuan ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah penanganan komprehensif.

‎Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa hasil survei tersebut tidak boleh disalahartikan sebagai label bahwa seluruh pelajar mengalami gangguan mental.

‎“Bukan pelajar gangguan mental, begini ya. Jangan sampai ini dianggap sebagai sebuah kutipan yang salah. Jadi hasil survei yang wajib dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung, berdasarkan amanat dari Kementerian Kesehatan, adalah melakukan asesmen terhadap kondisi kesehatan mental anak-anak sekolah,” ujar Farhan, Selasa 3 Maret 2026.

‎Menurutnya, survei tersebut merupakan bagian dari kebijakan nasional yang mengamanatkan pemerintah daerah untuk melakukan pemetaan kondisi kesehatan mental peserta didik. Dari hasil asesmen itulah ditemukan adanya spektrum persoalan, mulai dari stres ringan hingga indikasi depresi berat.


‎Farhan menegaskan, temuan ini justru menjadi dasar bagi Pemkot Bandung untuk memperkuat sistem pendampingan dan intervensi sejak dini.

‎Untuk penanganannya, Pemkot Bandung melalui Dinas Pendidikan akan melakukan langkah konkret, khususnya bagi jenjang yang menjadi kewenangan pemerintah kota, yakni hingga tingkat SMP.

‎Dinas Pendidikan akan bekerja sama dengan kelompok profesional psikologi guna memberikan capacity building atau penguatan kapasitas kepada guru Bimbingan Konseling (BK). Para guru BK nantinya dibekali kemampuan melakukan asesmen awal terhadap kondisi psikologis siswa di sekolah masing-masing.

‎“Guru BK nanti akan diberi kemampuan untuk melakukan asesmen terhadap murid-muridnya. Dari situ guru BK akan mengetahui, oh anak ini memiliki ciri-ciri yang perlu diperhatikan,” jelas Farhan.

‎Hasil asesmen dari guru BK tersebut tidak akan berhenti di tingkat sekolah. Setiap temuan yang memerlukan perhatian khusus akan dikonsultasikan lebih lanjut dengan psikolog profesional untuk memastikan langkah penanganan yang tepat.

‎Setelah melalui asesmen lanjutan bersama psikolog, akan ditentukan bentuk penanganan yang sesuai. Jika kondisi siswa dinilai masih bisa dibina melalui pendampingan di rumah dan sekolah, maka intervensi dilakukan secara internal dengan melibatkan orang tua dan tenaga pendidik.

‎Namun apabila hasil asesmen menunjukkan kebutuhan penanganan lebih lanjut, siswa akan dirujuk ke fasilitas layanan kesehatan seperti puskesmas untuk mendapatkan pendampingan medis dan psikologis yang lebih intensif.

‎“Bersama psikolog dilakukan lagi asesmen. Hasil asesmen mereka itu akan menunjukkan apakah anaknya cukup dibina di rumah dan di sekolah atau harus dirujuk ke puskesmas,” katanya.

‎Pemkot Bandung berharap, melalui pendekatan terstruktur dan kolaboratif ini, persoalan kesehatan mental di kalangan pelajar dapat ditangani sejak dini sehingga tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius di kemudian hari.

‎Farhan juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam menciptakan lingkungan rumah yang suportif, serta komunikasi yang terbuka antara sekolah dan keluarga.

‎" berkomitmen menjadikan isu kesehatan mental sebagai bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia, demi menciptakan generasi muda yang sehat secara fisik maupun psikologis," tandasnya.

Rekomendasi Berita