Moderasi Beragama Mendukung Kesuksesan Pendidikan dan Pergaulan

  • 13 Mar 2026 00:28 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Moderasi berasal dari kata moderat. Moderat berarti tengah-tengah tidak ekstrem. Bahasa lain adalah ugahari. Ugahari dalam bahasa Jawa dikenal sebagai sakmadya, tidak berlebihan. Arti dalam konteks beragama, moderasi bisa diartikan tidak berlebihan sehingga menjadi intoleran dengan agama lain. Seperti disampaikan Drs. Ignas Suryadi Sw, SE, M.Pd, MM dalam Dialog Moderasi Beragama di Pro 1, Selasa, 10 Maret siang.

"Pemahaman yang ekstrem dalam beragama bisa menjadi intoleran, radikal dan terakhir menjadi terorisme. Hal ini menjadi keprihatinan bersama. Untuk itu, penting sekali penerapan moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

Di dalam dunia pendidikan peran orangtua dan guru penting untuk menanamkan nilai moderasi beragama kepada anak didik mereka. Beberapa orangtua tidak mempermasalahkan jika anaknya bergaul akrab dengan teman yang berbeda agama. Hal ini sebagai bentuk pendidikan toleransi. Begitu pula dengan guru yang mengajarkan toleransi kepada siswanya dalam proses mengajar.

Selama ini Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sudah melakukan sosialisasi terkait moderasi beragama kepada siswa. Seperti program FKUB Goes to School, FKUB Goes to Madrasah dan Workshop. Dalam hal ini FKUB kerjasama dengan Dikpora DIY.

Jika moderasi beragama terwujud, hal itu dapat menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua siswa. Menghargai siswa lain dengan keyakinan yang berbeda. Sehingga tidak ada sekat-sekat penghambat sehingga suasananya menjadi tentram.

Selain lingkungan yang beragam, sekarang ini orang menghadapi tantangan zaman yang luar biasa. Seperti disrupsi digital dan perkembangan AI. Tingginya penggunaan medsos dan AI berdampak pada suasana kesepian. Ketika berinteraksi dengan computer, ujung-ujungnya hanya kesepian yang dirasakan. Ini yang disebut absurditas masyarakat.

Absurditas ini membawa pada kesepian dan kesepian ini bisa berdampak pada perilaku bunuh diri. Berdasarkan data, seperenam penduduk dunia menderita kesepian. Jika kesepian ini dibiarkan akan berdampak bahaya seperti kematian. Pengurangan produktivitas yang tinggi. Bahkan dicatat karena faktor kesepian, tingkat produktivitas di Indonesia turun 600-an triliun.

Ignas juga menambahkan menghadapi fenomena ini, manusia perlu suasana pergaulan yang semakin nyaman. Serta menyadari pentingnya kehadiran orang lain untuk mengurangi rasa kesepian.

Moderasi beragama terutama di lingkup pendidikan di Yogyakarta belum spenuhnya terwujud 100%. Hal ini dapat dilihat dari data adanya pelajar yang terpapar radikalisme. Faktor yang mempengaruhi banyak. Bisa dari lingkungan sekolah, rumah ataupun pergaulan.

Rekomendasi Berita