Guru Besar UGM Kritik Kebutuhan Sapi Potong untuk MBG

  • 12 Mar 2026 11:40 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman – Guru Besar Fakultas Peternakan UGM menanggapi pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) terkait kebutuhan 19 ribu ekor sapi untuk dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Prof. Panjono, S.Pt., MP., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., menilai angka tersebut perlu dikaji secara rasional dan dijelaskan secara transparan kepada publik

Menurut Panjono, klaim tersebut tidak sepenuhnya selaras dengan fakta di lapangan, khususnya terkait menu MBG yang beredar saat ini. Panjono menambahkan program sebesar MBG tetap membutuhkan kebijakan berbasis data, baik dalam perencanaan produksi, penguatan populasi sapi dalam negeri, maupun impor sapi bakalan, agar keberlanjutannya tetap terjaga.

“Kalau benar 19 ribu ekor sapi dipotong dalam sehari, dan empat kali dalam sebulan, seharusnya daging sapi rutin muncul dalam menu. Tapi dalam praktiknya, menu MBG lebih banyak ayam, telur, dan ikan. Jadi, rasanya perlu dibuktikan kebenarannya. Belum lagi terkait ketersediaan sapinya,” ujarnya, melalui keterangan tertulis yang diterima RRI, Rabu, 11 Maret 2026.

Pada 2026, MBG ditargetkan menjangkau 82,9 juta penerima manfaat. Hingga awal Januari 2026, realisasinya telah mencapai sekitar 55,1 juta orang atau 66,5 persen dari target nasional.

Menurut BPS, total populasi sapi 2025 di Indonesia sekitar 13,5 juta ekor. Sementara Kementerian Pertanian mentargetkan swasembada daging sapi pada tahun 2026 dengan proyeksi populasi sapi sebesar 19,96 juta ekor, terdapat kekurangan 6,46 juta ekor.

Sementara itu, data realisasi impor sapi bakalan anggota GAPUSPINDO menunjukkan pada 2024 terealisasi 475.032 ekor (72,7 persen dari izin impor), dan pada 2025 mencapai 494.995 ekor (83,6 persen dari izin impor). Angka ini menunjukkan pasokan sapi bakalan berada pada kisaran ratusan ribu ekor per tahun, bukan jutaan ekor dalam waktu singkat.

“Sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan MBG dan swasembada daging di tahun 2026, tetapi kita harus tetap optimis untuk menuju ke sana. Tentu saja diperlukan upaya yang sangat luar biasa untuk mewujudkannya,”katanya.

Panjono menambahkan, peningkatan populasi sapi dalam negeri harus dilakukan dengan cepat dan tepat, misalnya melalui pembiakan dengan metode koloni terintegrasi dengan kebun sawit, kebun kelapa, ataupun hutan tanaman industri yang banyak terdapat di Indonesia. Harapannya jika tidak bisa terwujud tahun ini bisa dilakukan untuk tahun-tahun selanjutnya.

Rekomendasi Berita