Diversifikasi Pangan Maluku Tenggara Butuh Data Akurat

  • 21 Feb 2026 16:03 WIB
  •  Tual

RRI.CO.ID, Langgur - Diversifikasi pangan di Kabupaten Maluku Tenggara menjadi sorotan strategis untuk mendukung ketahanan pangan wilayah timur Indonesia. Direktur Pembangunan Indonesia Timur Kementerian PPN/Bappenas, Ika Retna Wulandari menekankan keberhasilan program ketahanan pangan sangat tergantung pada akurasi data produksi komoditas lokal, Sabtu (21/2/2026).

Menurut Ika, komoditas unggulan seperti rumput laut dan ubi kayu memiliki potensi besar untuk memperkuat diversifikasi pangan di daerah kepulauan. Namun, data yang ada saat ini masih bersumber dari 2013, sehingga perencanaan intervensi dari pusat dan daerah berisiko tidak tepat sasaran.

“Data yang lama akan memengaruhi ketepatan intervensi kebijakan, sehingga pembaruan data menjadi hal yang sangat penting,” ujar Ika.

Ika mengungkapkan, produksi rumput laut di Maluku Tenggara menempati peringkat kedua tertinggi di provinsi Maluku, sedangkan ubi kayu berada di posisi keempat.

Potensi ini sangat strategis karena dapat menjadi bahan pangan lokal dan sumber diversifikasi makanan yang lebih beragam, terutama di pulau-pulau terpencil.

“Ubi kayu untuk kepulauan Maluku Tenggara sangat potensial sebagai bahan pangan lokal, tetapi datanya perlu diupdate agar sesuai kondisi saat ini,” katanya.

Ia menambahkan, ketepatan kebijakan pangan akan lebih efektif jika pemerintah pusat dan daerah melakukan sinkronisasi data secara berkala.

Pembaruan data dari BPS, dinas terkait, dan pemerintah daerah akan memungkinkan perencanaan program yang lebih presisi, mulai dari penyediaan benih unggul hingga strategi distribusi pangan ke wilayah pesisir dan kepulauan.

Selain itu, Ika menyoroti pentingnya memaksimalkan nilai tambah dari komoditas lokal. Produk seperti rumput laut dan ubi kayu tidak hanya bisa dikonsumsi langsung, tetapi juga diolah menjadi makanan siap saji, bahan industri, atau produk ekspor, sehingga dapat mendongkrak ekonomi lokal dan memperkuat ketahanan pangan secara berkelanjutan.

Ia menekankan pembangunan wilayah timur Indonesia tidak hanya soal ketersediaan pangan, tetapi juga tentang penguatan kapasitas lokal dan mitigasi kerawanan akibat perubahan iklim. Dengan data yang akurat, kebijakan pembangunan dapat menargetkan intervensi yang efektif, mengurangi kerawanan pangan, dan memanfaatkan potensi lokal sebagai penggerak utama ekonomi Maluku Tenggara.

Rekomendasi Berita