BMKG: Gempa Tolitoli Fenomena Sesar Lokal, Bukan Megathrust
- 06 Mar 2026 10:17 WIB
- Toli Toli
RRI.CO.ID, TOLITOLI – Masyarakat Kabupaten Tolitoli dan sekitarnya belakangan ini dibuat resah oleh rentetan guncangan gempa bumi yang terjadi sejak Sabtu, 28 Februari lalu. Menanggapi kegelisahan publik, Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Sultan Bantilan Tolitoli, Wahyu Guru Imantoro, memberikan penjelasan mendalam dalam dialog bersama RRI, Selasa (3/3/2026).
Wahyu mengungkapkan bahwa setelah gempa utama berkekuatan Magnitudo 5,5 mengguncang wilayah Tolitoli Utara pada Sabtu siang, aktivitas seismik di bawah permukaan tanah belum sepenuhnya berhenti.
"Hingga pagi ini, tercatat sudah terjadi 37 kali gempa susulan. Namun, masyarakat tidak perlu panik berlebihan karena magnitudonya terus menurun di bawah gempa utama," jelas Wahyu. Dari puluhan susulan tersebut, tercatat hanya empat gempa yang kekuatannya cukup dirasakan oleh warga di Tolitoli dan Buol.
Isu paling panas yang beredar di media sosial menyebutkan bahwa akan terjadi gempa raksasa pada tanggal 5 Maret mendatang. Wahyu dengan tegas mematahkan kabar burung tersebut.
"Sampai detik ini, tidak ada satupun teknologi di dunia, bahkan di negara maju sekalipun, yang mampu memprediksi kapan tepatnya gempa akan terjadi. Jika ada informasi yang mencantumkan tanggal dan jam secara spesifik, bisa dipastikan itu 100% Hoaks," tegasnya.
Ada temuan menarik dari hasil analisa BMKG terhadap titik koordinat gempa kemarin. Wahyu menyebutkan bahwa gempa yang terjadi bukanlah berasal dari zona Megathrust atau sesar yang sudah terpetakan sebelumnya, melainkan akibat sesar lokal yang belum teridentifikasi.
"Pusat gempanya di darat, sebelah timur kota Tolitoli. Ini adalah sesar baru yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Karena pusatnya di darat dan kekuatannya di bawah Magnitudo 7,0, maka gempa ini tidak berpotensi tsunami," tambahnya.
Wahyu mengajak warga untuk tidak menghabiskan waktu dengan rasa takut, melainkan dengan meningkatkan pengetahuan mitigasi. Salah satu tips sederhana namun krusial yang dibagikan adalah soal arah bukaan pintu rumah.
"Hal sepele, arah pintu sebaiknya dibuat membuka ke luar. Dalam kondisi panik, insting manusia adalah mendorong. Jika pintu membuka ke dalam, itu bisa menghambat proses evakuasi," sarannya.
Ia menutup pemaparannya dengan himbauan agar masyarakat hanya memantau informasi dari kanal resmi BMKG atau BPBD, serta selalu menyiapkan Tas Siaga Bencana di rumah masing-masing.