Kapal Pengungsi Rohingya Tenggelam, Belasan Korban Tewas
- 10 Nov 2025 22:28 WIB
- Takengon
KBRN, Redelong : Sebuah kapal yang mengangkut puluhan pengungsi Rohingya dilaporkan tenggelam di perairan antara Thailand dan Malaysia pada Minggu (9/11/2025). Hingga Senin (10/11/2025), sedikitnya 11 orang ditemukan tewas, sementara puluhan lainnya masih dinyatakan hilang.
Insiden tragis ini terjadi di sekitar Pulau Tarutao, wilayah utara Malaysia, tidak jauh dari Langkawi. Kepala Polisi Kedah, Adzli Abu Shah, menyebutkan bahwa kapal tersebut diduga terbalik tiga hari sebelum ditemukan. “Sebuah kapal yang membawa sekitar 90 orang diyakini tenggelam,” ujarnya kepada media lokal.
Otoritas maritim Malaysia dan Thailand kini bekerja sama melakukan operasi pencarian gabungan di lokasi kejadian. Direktur Badan Maritim Malaysia untuk wilayah Kedah dan Perlis, Romli Mustafa, mengonfirmasi bahwa 13 orang berhasil diselamatkan — sebagian besar merupakan warga Rohingya yang berusaha mencari suaka.
Namun, tragedi ini belum berakhir. Dua kapal lain yang dilaporkan berangkat bersamaan masih belum ditemukan dan dikhawatirkan membawa lebih dari 200 penumpang lainnya. Kondisi cuaca buruk dan arus laut yang kuat membuat proses pencarian menjadi tantangan besar bagi tim penyelamat.
Penemuan korban tersebar di dua wilayah perairan. Otoritas Thailand menemukan empat jenazah, termasuk dua anak berusia 10 dan 12 tahun, sementara tujuh jenazah lainnya ditemukan oleh tim penyelamat Malaysia. “Dua korban perempuan yang ditemukan membawa kartu pengungsi Rohingya,” ungkap seorang pejabat maritim Thailand kepada Reuters.
Menurut keterangan pihak berwenang, kapal tersebut berangkat dari pesisir Myanmar, dekat perbatasan Bangladesh, sekitar dua pekan lalu. Para pengungsi diyakini mencoba melarikan diri dari kamp-kamp penampungan di wilayah Rakhine dan Cox’s Bazar, dengan harapan bisa mencapai Malaysia untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Tragedi ini kembali menyoroti krisis kemanusiaan yang dialami etnis Rohingya, yang selama bertahun-tahun menghadapi diskriminasi dan penindasan di tanah kelahirannya. Pemerintah Malaysia dan Thailand berjanji akan melanjutkan upaya pencarian korban serta memberikan bantuan kemanusiaan bagi para penyintas.