Benito Mussolini: Diktator Italia Pencetus Paham Fasisme
- 06 Nov 2025 18:38 WIB
- Takengon
KBRN, Takengon: Roma, 28 April 1945. Hujan tipis turun di atas jalan-jalan batu di utara Italia ketika sebuah truk militer berhenti. Di dalamnya, tubuh seorang pria berjas abu-abu terkulai. Wajahnya dingin, matanya tertutup—namun dunia tahu siapa dia: Benito Amilcare Andrea Mussolini, pemimpin yang pernah memerintah Italia dengan tangan besi dan lidah api. Ia mati ditembak oleh rakyatnya sendiri, di negeri yang dulu bersorak memujanya sebagai Il Duce—“Sang Pemimpin”.
Lahir di Predappio, sebuah kota kecil di Emilia-Romagna pada 29 Juli 1883, Mussolini tumbuh dalam keluarga miskin. Ayahnya seorang pandai besi berideologi sosialis, sementara ibunya guru sekolah. Dari ayahnya, Mussolini mewarisi semangat perlawanan; dari ibunya, kecintaan pada kata-kata.
Sebelum menjadi diktator, Mussolini adalah seorang jurnalis dan penulis yang brilian. Ia menulis dengan retorika yang menggugah, menyalakan semangat nasionalisme di dada banyak orang Italia yang kala itu tengah dilanda kekecewaan pasca Perang Dunia I.
“Bangsa yang besar tidak boleh berlutut,” tulisnya dalam salah satu editorial koran Il Popolo d’Italia—sebuah kalimat yang kelak menjadi nyawa bagi gerakan fasis yang ia dirikan.
Tahun 1919, Mussolini mendirikan Partito Nazionale Fascista (Partai Fasis Nasional). Ia menjanjikan kebangkitan Italia, mengobarkan nostalgia kejayaan Romawi kuno, dan menjanjikan ketertiban di tengah kekacauan politik.
Pada 1922, lewat March on Rome, ribuan pengikutnya berbaris menuju ibu kota. Raja Victor Emmanuel III, ketakutan akan perang saudara, menunjuk Mussolini sebagai perdana menteri termuda Italia.
Dalam waktu singkat, Mussolini mengubah Italia menjadi negara totaliter. Pers dibungkam, oposisi dibasmi, dan propaganda dijadikan alat utama. Ia memerintah bukan hanya lewat hukum, tapi lewat citra—pakaian seragam hitam, pidato menggelegar di balkon Palazzo Venezia, dan slogan yang menggaung di seluruh negeri.
Namun ambisi Mussolini tak berhenti di dalam negeri. Ia bermimpi membangun kembali Kekaisaran Romawi. Pada 1935, ia menyerang Etiopia; dunia mengecam, tetapi di Italia, ia dielu-elukan. Ketika Adolf Hitler bangkit di Jerman, Mussolini melihat sekutu sekaligus cermin. Mereka bersatu dalam ideologi totalitarian yang kelam—dan bersama-sama menjerumuskan dunia ke Perang Dunia II.
Namun perang bukanlah panggung kemenangan yang diharapkannya. Tentara Italia kalah di Afrika, Yunani, dan Eropa Timur. Rakyat yang dulu bersorak kini lapar dan ketakutan. Pada 1943, Mussolini digulingkan oleh Dewan Agung Fasis dan ditangkap. Namun Hitler menyelamatkannya, mendirikan Republik Sosialis Italia di utara—negara boneka yang hanya bertahan dua tahun.
April 1945. Pasukan Sekutu sudah mendekat. Mussolini berusaha melarikan diri ke Swiss bersama kekasihnya, Clara Petacci. Namun pasukan partisan Italia menemukannya di Dongo. Ia dieksekusi tanpa pengadilan. Tubuhnya kemudian digantung terbalik di Piazzale Loreto, Milan—di tempat yang sama di mana ia dulu memerintahkan eksekusi lawan-lawannya.
Bagi sebagian orang, itu adalah akhir dari teror. Bagi sejarah, itu adalah pelajaran tentang kesombongan kekuasaan.
Kini, delapan dekade setelah kejatuhannya, nama Mussolini tetap membelah Italia. Ada yang mengutuknya sebagai simbol kebiadaban dan penindasan. Namun di kota kelahirannya, beberapa orang masih menaruh bunga di makamnya. Di dinding rumah tua di Predappio, coretan sederhana sering muncul: “Duce, sempre con noi.” — “Sang Pemimpin, selalu bersama kami.”
Benito Mussolini mungkin telah mati, tapi ide-ide yang pernah ia kobarkan masih menjadi peringatan bagi dunia: bahwa karisma bisa berubah menjadi tirani, dan nasionalisme bisa menjelma menjadi kekerasan.
Benito Mussolini adalah ironi sejarah—seorang jurnalis yang memuja kata, tapi menghancurkan kebebasan berbicara; seorang pemimpin yang menjanjikan kejayaan, tapi membawa bangsanya kedalam jurang kehancuran.
Dalam sejarah manusia, namanya tetap menjadi pengingat: betapa tipisnya batas antara cinta rakyat dan ketakutan mereka terhadap penguasa.