Apa yang Harus Dilakukan saat Gunung Berapi Erupsi?
- 20 Feb 2026 19:36 WIB
- Tahuna
RRI.CO.ID, Tahuna - Posisi Indonesia tepat berada di cincin api Pasifik (Ring of Fire) sebagai tapal kuda sepanjang 40.000 kilometer menjadikan Indonesia sebagai rangkaian gunung berapi aktif dan pusat aktivitas seismik tertinggi di dunia. Dizona ini 90 persen rentan mengalami gempa bumi dan 75 persen terdapat gunung berapi aktif. Dari prosentase tersebut, Indonesia mengoleksi 127 gunung berapi aktif terbanyak di dunia karena jalur ring of fire membentang dari pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara hingga Sulawesi dan Maluku.
Di Sulawesi Utara terdapat 9 gunung berapi aktif yang dipantau secara intensif oleh Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Dari jumlah gunung berapi tersebut, ada beberapa diantaranya sering menunjukan peningkatan aktivitas mulai dari level dua waspada sampai Februari 2026. Gunung berapi itu diantaranya gunung Awu di kabupaten kepulauan Sangihe, gunung Karangetang di pulau Siau kabupaten kepulauan Sitaro, gunung api Lokon, Soputan, Mahawu di Minahasa dan gunung Ambang di Bolmong.
Dari deretan potensi bencana geologi itu tidak dihindari karena sudah pemberian sang Ilahi. Namun ancaman dapat dimitigasi agar cincin api tidak menjadi momok yang menakutkan melingkari kehidupan khususnya masyarakat di sekitar kaki gunung.
Peristiwa erupsi gunung Ruang di pulau Tagulandang April 2024 lalu, telah memberikan pelajaran berharga dalam meminimalisir resiko. Letusan gunung api hanya bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah “erupsi”. Bahaya letusan gunung api berupa awan panas, lontaran material (pijar), hujan abu lebat, lava, gas beracun dan banjir lahar dapat diantisipasi jika pemerintah terus melakukan edukasi kebencanaan.
Selain itu langkah mengantisipasi jatuhnya korban hanya dengan evakuasi, ke daerah yang lebih aman. Abu vulkanik sangat berbahaya pada kesehatan terutama dapat menyebabkan gangguan pernapasan, mata dan kulit. Bahaya lain seperti lava dan batu pijar dapat menyebabkan kebakaran dan cedera. Gas beracun sulfur dioksida dan hidrogen sulfida dapat menyebabkan keracunan. Untuk itu saat bencana geologi hindari area yang terkena gas beracun, banjir lahar setelah erupsi.
Sebelum dievakuasi perlu menjadi perhatian terutama barang - barang penting diantaranya makanan, air, obat- obatan dan dokumen penting. Pastikan juga jalur evakuasi yang aman dan jelas, komunikasi dengan keluarga dan teman-teman.
Bencana geologi adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat oleh faktor alam sehingga menimbulkan korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis. ( Anton Lahaube).