Suara Orang Muda Tolak Rokok Gema ke Dunia
- 15 Mei 2025 19:08 WIB
- Surakarta
KBRN, Washington: Suara perlawanan anak muda Indonesia terhadap industri rokok kini menggema hingga ke panggung dunia. Manik Marganamahendra, pemuda asal Indonesia dan Ketua Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC), dinobatkan sebagai Global Young Ambassador of the Year oleh Campaign for Tobacco-Free Kids (CTFK) dalam sebuah seremoni penghargaan bergengsi yang digelar di Washington D.C., Amerika Serikat.
Dalam rilis yang diterima RRI, Kamis (15/5/2025), penghargaan ini tidak hanya menandai pencapaian pribadi Manik, namun juga mengakui keberanian kolektif generasi muda Indonesia dalam menolak menjadi target industri rokok. Dalam pidatonya, Manik mengenang perjuangannya sejak masa kuliah yang nyaris membuatnya mendekam di penjara.
“Sembilan tahun lalu ketika mahasiswa, saya bersama teman-teman di Universitas Indonesia memprotes pameran industri rokok dan hampir masuk penjara. Kami hampir kehilangan kebebasan karena berjuang agar industri ini tidak lagi menargetkan orang muda sebagai konsumen mereka. Tapi justru dari situ saya belajar bahwa keberanian sekecil apa pun, ternyata bisa menyalakan api perubahan,” ujarnya dalam forum penghargaan yang turut dihadiri perwakilan Kedutaan Besar RI untuk AS, Sade Bimantara.
Manik menegaskan bahwa perjuangan ini bukan hanya tentang dirinya, melainkan suara ribuan orang muda yang menolak menjadi sasaran industri tembakau. “Ini bukan tentang saya. Ini untuk generasi muda yang terus membawa obor perjuangan. Ini juga tentang keluarga kami yang terdampak. Ayah saya dulunya adalah perokok berat dan kini beliau tidak mampu lagi berjalan atau berbicara seperti dulu. Saya rindu suaranya dan itulah alasan mengapa saya berdiri di sini,” katanya.
Indonesia saat ini menghadapi krisis serius dalam konsumsi rokok. Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan bahwa 7,4 persen perokok aktif adalah remaja berusia 10–18 tahun. Sementara itu, lebih dari 70 persen laki-laki dewasa di Indonesia tercatat sebagai perokok aktif, menciptakan beban kesehatan, sosial, dan ekonomi yang berat.
Meski pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan, termasuk peningkatan usia minimum pembelian rokok menjadi 21 tahun serta pelarangan penjualan eceran dan iklan rokok di media sosial, tantangan penegakan hukum masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Riset PKJS-UI tahun 2022 menunjukkan bahwa tingginya konsumsi rokok turut menggerus pengeluaran rumah tangga untuk pendidikan dan nutrisi. Anak-anak dan bahkan janin dalam kandungan menjadi korban pasif dari paparan asap rokok, yang berkontribusi terhadap risiko stunting.
Namun, di tengah situasi itu, gelombang kesadaran dan aksi dari anak-anak muda terus menguat. Melalui IYCTC dan kolaborasi dengan berbagai organisasi serta pemerintah, mereka aktif mendorong regulasi yang lebih berpihak pada kesehatan publik. Penghargaan internasional yang diterima Manik menjadi bukti bahwa suara mereka diakui dunia.
“Orang muda harus menolak menjadi target pemasaran industri rokok. Justru kita harus memimpin kesadaran dan perubahan, karena ketika nanti sejarah menoleh kebelakang, kita dikenal sebagai generasi yang memilih berdiri untuk kesehatan dan keadilan,” ucapnya.
Momentum penghargaan ini bertepatan dengan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada 31 Mei, yang semestinya menjadi refleksi arah kebijakan kesehatan nasional. Pemerintah Indonesia sebelumnya telah mencantumkan target penurunan prevalensi perokok anak dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), namun angka perokok anak masih tinggi. (Ril/Ase)