Waspada Kue Lebaran Tak Halal, Kenali Titik Kritis Bahan dan Proses Produksinya

  • 05 Mar 2026 21:15 WIB
  •  Sungaipenuh

RRI.CO.ID, Sungai Penuh - Menjelang Hari Raya Idulfitri, berbagai jenis kue kering mulai diproduksi dan dijual secara luas, baik oleh industri besar maupun usaha rumahan. Namun di balik meningkatnya produksi tersebut, masyarakat diingatkan untuk lebih teliti karena beberapa kue Lebaran berpotensi tidak halal jika bahan dan proses pembuatannya tidak diperhatikan dengan baik.

Potensi ketidakhalalan biasanya muncul dari bahan tambahan yang digunakan dalam pembuatan kue. Beberapa bahan seperti emulsifier, perisa, pewarna, dan shortening terkadang berasal dari turunan hewani yang tidak jelas sumbernya. Jika bahan tersebut berasal dari hewan yang tidak disembelih sesuai syariat atau bahkan dari hewan yang diharamkan, maka kue yang dihasilkan dapat menjadi tidak halal.

Selain bahan utama, penggunaan mentega atau margarin juga perlu diperhatikan. Sebagian produk impor atau bahan tertentu mungkin menggunakan campuran lemak hewani yang belum tentu memiliki sertifikasi halal. Begitu pula dengan cokelat, gelatin, atau topping tertentu yang dapat mengandung bahan turunan hewan.

Tidak hanya bahan, peralatan produksi juga menjadi titik kritis. Alat yang sebelumnya digunakan untuk mengolah bahan tidak halal dan tidak dibersihkan sesuai standar dapat menyebabkan kontaminasi pada kue yang diproduksi. Hal ini terutama berpotensi terjadi pada usaha yang menggunakan peralatan bersama untuk berbagai jenis produk.

Dalam proses produksi skala besar, risiko lainnya muncul dari penggunaan bahan setengah jadi yang dibeli dari pemasok. Tanpa pemeriksaan label dan sertifikasi halal yang jelas, produsen bisa saja menggunakan bahan yang status kehalalannya meragukan.

Karena itu, masyarakat disarankan untuk lebih selektif saat membeli kue Lebaran, terutama dari produk yang tidak memiliki label halal. Memeriksa komposisi bahan, memperhatikan asal produk, serta memilih produsen yang sudah memiliki sertifikasi halal dapat menjadi langkah sederhana untuk memastikan makanan yang dikonsumsi tetap sesuai dengan ketentuan syariat.

Kesadaran akan titik kritis bahan dan alat produksi diharapkan dapat meningkatkan kehati-hatian produsen maupun konsumen, sehingga tradisi menyajikan kue Lebaran tetap memberikan rasa aman dan nyaman bagi semua.

Rekomendasi Berita