Montessori Buka Akses Literasi Anak Berkebutuhan Khusus
- 15 Feb 2026 05:48 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID,Sungailiat - Metode pembelajaran yang tepat menjadi kunci dalam membuka akses literasi bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Hal itu mengemuka dalam dialog Ruang Disabilitas dan Inklusi Pro 1 RRI Sungailiat yang menghadirkan Eva Pratiwi, S.Psi, Tenaga Pendidik Seksi Layanan Pendidikan Transisi UPTD Pendidikan Inklusi Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, serta Fajar Novianati, S.I.P, Kepala Subbagian Tata Usaha UPTF Pendidikan Inklusi Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.Sabtu,14 Februari 2026.
Eva Pratiwi menjelaskan bahwa pendekatan Metode Montessori memberikan ruang belajar yang lebih konkret, terstruktur, dan ramah bagi ABK, khususnya dalam proses membaca dan menulis. Anak diajak mengenal huruf melalui media sensorik seperti huruf timbul dan permainan fonetik sehingga proses belajar menjadi lebih menyenangkan dan tidak menekan.
Menurut Eva, prinsip utama Montessori adalah mengikuti ritme dan kesiapan anak. “Anak berkebutuhan khusus memiliki gaya belajar yang berbeda. Dengan Montessori, kita tidak memaksa, tetapi memfasilitasi agar mereka memahami huruf dan bunyi secara bertahap,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam praktiknya anak terlebih dahulu diperkenalkan pada bunyi huruf sebelum membaca kata. Pendekatan ini membantu meningkatkan pemahaman fonologis sekaligus membangun rasa percaya diri. Ketika anak merasa berhasil mengenali satu huruf, motivasi belajarnya pun tumbuh secara alami.
Sementara itu, Fajar Novianati menekankan komitmen pemerintah daerah dalam memperluas layanan pendidikan inklusi di Bangka Belitung. Menurutnya, dukungan fasilitas, pelatihan guru, serta keterlibatan orang tua menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembelajaran berbasis Montessori bagi ABK.
“Kami mendorong sekolah inklusi untuk terus berinovasi dalam metode pembelajaran. Literasi adalah hak semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus,” Ungkapnya. Ia juga mengajak masyarakat untuk menghapus stigma dan memberikan dukungan positif bagi tumbuh kembang anak.
Irene, warga Sungailiat, mengaku anaknya yang mengalami kesulitan belajar mulai menunjukkan perkembangan setelah diperkenalkan metode berbasis permainan huruf. “Anak saya jadi lebih semangat, tidak mudah marah saat belajar membaca,” ungkapnya melalui pesan singkat.
Fajar berharap dengan dialog ini mampu membuka wawasan masyarakat bahwa dengan metode yang tepat seperti Montessori, anak berkebutuhan khusus memiliki peluang yang sama untuk menguasai kemampuan membaca dan menulis secara bertahap dan bermakna.