Waspada Upal, BPRS Bhakti Sumekar Ingatkan Kenali Rupiah dengan Metode 3D

  • 11 Mar 2026 14:16 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep – Meningkatnya aktivitas ekonomi selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri membuat peredaran uang tunai di masyarakat ikut meningkat. Kondisi ini juga berpotensi dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk mengedarkan uang palsu.

Direktur Utama PT BPRS Bhakti Sumekar Sumenep, Hairil Fajar, mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap kemungkinan peredaran uang palsu, terutama saat transaksi tunai meningkat pada momen pembagian Tunjangan Hari Raya (THR).

Menurutnya, Ramadan dan Lebaran merupakan periode dengan perputaran uang yang sangat tinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya.

“Pada momen Ramadan dan Lebaran ini kebutuhan masyarakat meningkat, sehingga peredaran uang juga tinggi. Karena itu masyarakat perlu mewaspadai kemungkinan adanya uang palsu,” ujarnya dalam dialog interaktif Sumenep Menyapa.

Hairil menjelaskan, uang yang beredar di masyarakat terdiri dari beberapa kategori, di antaranya uang layak edar (ULE) dan uang tidak layak edar (UTLE). Uang tidak layak edar biasanya sudah rusak, sobek, atau lusuh sehingga perlu ditarik oleh perbankan untuk kemudian ditukar melalui Bank Indonesia.

Sementara itu, masyarakat biasanya memburu uang baru atau hasil cetak sempurna (HCS) untuk dibagikan sebagai THR kepada anak-anak dan keluarga. Pecahan yang paling banyak dicari umumnya Rp5.000, Rp10.000 hingga Rp20.000.

Untuk menghindari penipuan uang palsu, ia mengimbau masyarakat mengenali ciri-ciri uang rupiah asli menggunakan metode 3D yang diperkenalkan oleh Bank Indonesia.

Metode tersebut meliputi:

  • Dilihat, dengan memperhatikan warna yang tajam dan adanya benang pengaman.
  • Diraba, karena terdapat bagian cetakan yang terasa kasar pada uang asli.
  • Diterawang, untuk melihat tanda air atau gambar pahlawan serta fitur keamanan lainnya.

“Kalau uang palsu biasanya terasa licin dan warnanya cenderung pudar. Sedangkan uang asli memiliki tekstur cetakan yang terasa saat diraba,” katanya, Rabu 11 Maret 2026

Hairil menambahkan, selama tahun 2026 hingga memasuki Ramadan, pihaknya belum menemukan temuan signifikan terkait peredaran uang palsu di lingkungan BPRS Bhakti Sumekar. Namun, apabila ditemukan indikasi uang palsu dari nasabah, pihak bank akan menahannya dan melaporkannya kepada Bank Indonesia sesuai prosedur.

Ia menilai berkurangnya peredaran uang palsu dalam beberapa tahun terakhir juga dipengaruhi oleh meningkatnya penggunaan transaksi digital atau non-tunai oleh masyarakat.

“Gerakan transaksi non-tunai seperti QRIS juga membantu menekan potensi peredaran uang palsu,” katanya.

Selain itu, BPRS Bhakti Sumekar juga aktif melakukan edukasi kepada masyarakat melalui kunjungan ke sekolah, pasar tradisional, hingga organisasi profesi untuk meningkatkan literasi tentang cara mengenali uang rupiah asli.

Di akhir dialog, Hairil mengimbau masyarakat agar menukarkan uang baru melalui bank atau agen resmi, memeriksa uang di tempat terang, serta tidak terburu-buru saat menerima uang dalam transaksi.

“Jika menemukan hal yang mencurigakan terkait uang palsu, masyarakat dapat segera melaporkannya kepada pihak berwajib,” ucapnya.

Rekomendasi Berita