Air Berlebih dan Kurang Sama Bahayanya
- 13 Feb 2026 10:03 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep : Fenomena kelebihan dan kekurangan air menjadi tantangan serius bagi Kabupaten Sumenep. Sekretaris BPBD Sumenep, Dr. H. Abd. Kadir, M.Pd, menegaskan bahwa air merupakan sumber kehidupan, namun dalam kondisi ekstrem dapat berubah menjadi ancaman bencana.
“Kelebihan air menjadi bencana, kekurangan air juga menjadi bencana. Karena itu, kuncinya adalah keseimbangan dalam pengelolaan,” ujar Abd. Kadir dalam keterangannya.
Menurutnya, musim hujan tahun ini tetap menyimpan potensi banjir, khususnya di wilayah rawan seperti Desa Patean dan sekitarnya yang kerap terdampak luapan sungai serta pasang air laut. Kondisi tersebut diperparah ketika intensitas hujan tinggi berbarengan dengan air laut pasang, sehingga aliran sungai tidak dapat mengalir lancar ke laut.
“Ketika jalur air tertutup atau drainase tidak berfungsi optimal, air akan meluap ke permukiman. Karena itu, kami terus mengedukasi masyarakat agar tidak menutup saluran air dan menjaga lingkungan tetap bersih,” katanya.
BPBD Sumenep, lanjut Abd. Kadir, telah melakukan langkah mitigasi melalui edukasi kebencanaan, pembangunan posko siaga, serta koordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Upaya tersebut terbukti mampu menekan kejadian banjir tahunan di beberapa titik rawan.
Selain banjir, ancaman kekeringan juga menjadi perhatian, terutama di wilayah daratan dan sejumlah kecamatan kepulauan seperti Batuputih, Rubaru, dan Batang-Batang. Pada musim kemarau panjang sebelumnya, BPBD menyalurkan bantuan air bersih ke daerah-daerah yang mengalami krisis air akibat mengeringnya sumur warga.
“Tantangan terbesar kami adalah kondisi geografis. Sumenep terdiri dari daratan dan kepulauan. Jika bencana terjadi di kepulauan, akses transportasi menjadi kendala sehingga respons membutuhkan waktu lebih panjang,” jelasnya.
Abd. Kadir menekankan pentingnya peran generasi muda dalam membangun kesadaran kolektif terkait pengelolaan air. Menurutnya, edukasi dan ketangguhan desa menjadi strategi utama untuk menghadapi dua kondisi ekstrem tersebut.
“Generasi muda harus menjadi garda terdepan dalam mengampanyekan penggunaan air secara bijak. Menghemat air dan menjaga lingkungan adalah langkah nyata menjaga keseimbangan, agar air tidak menjadi ancaman ketika berlebih maupun saat berkurang,” pungkasnya.
BPBD Sumenep berharap kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan relawan kebencanaan terus diperkuat demi menciptakan ketahanan lingkungan yang adaptif terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem di wilayah tersebut.