Konflik Timur Tengah Memanas, Kanwil Kemenhaj Kaltim Imbau Tunda Umrah
- 04 Mar 2026 13:46 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah berdampak hingga ke daerah. Kantor Wilayah Kementerian Haji Kalimantan Timur mengimbau warga menunda keberangkatan umrah demi keselamatan perjalanan di tengah konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Imbauan tersebut disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Kanwil Kementerian Haji (Kemenhaj) Kalimantan Timur, Mohlis Hasan, kepada rri.co.id, Rabu 4 Maret 2026. Ia menegaskan kondisi keamanan penerbangan menuju Tanah Suci perlu dipertimbangkan secara matang sebelum calon jemaah memutuskan tetap berangkat.
Dalam keterangannya, Mohlis mengatakan masyarakat yang berencana melaksanakan umrah atau perjalanan lain menuju Arab Saudi sebaiknya tidak tergesa-gesa mengambil keputusan. Situasi konflik di kawasan Timur Tengah dinilai belum benar-benar stabil.
“Dalam hal ini kami menghimbau kepada masyarakat yang akan melaksanakan perjalanan umrah atau perjalanan lainnya menuju Tanah Suci agar mempertimbangkan keamanan perjalanan. Mengingat kondisi Timur Tengah sekarang tidak benar-benar aman,” ujarnya.
Bagi masyarakat Kalimantan Timur, imbauan ini memiliki kedekatan langsung. Setiap tahun, ratusan hingga ribuan warga Kaltim berangkat umrah, terutama menjelang sepuluh hari terakhir Ramadan yang biasanya menjadi puncak keberangkatan.
Mohlis menjelaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Haji di tingkat pusat. Berdasarkan arahan yang diterima, otoritas daerah diminta lebih berhati-hati dalam memantau keberangkatan jemaah di tengah situasi geopolitik yang belum menentu.
“Berbagai informasi yang kami dapat dari pusat memang ada himbauan agar jemaah mempertimbangkan untuk menunda keberangkatan atau mengikuti arahan maskapai penerbangan,” ucapnya.
Menurutnya, maskapai penerbangan merupakan pihak yang memiliki informasi paling akurat terkait kondisi jalur udara. Ia menyebut maskapai seperti Saudia dan Garuda Indonesia tentu memantau langsung perkembangan keamanan penerbangan.
“Karena yang paling mengetahui kondisi di lapangan itu maskapai penerbangan. Mereka tentu memiliki informasi keamanan penerbangan secara langsung,” katanya.
Selain mengikuti arahan maskapai, calon jemaah juga diminta mematuhi ketentuan instansi berwenang yang mengatur lalu lintas penerbangan dan perjalanan internasional, termasuk kementerian terkait serta perwakilan diplomatik Arab Saudi. Sinergi antar-sektor dinilai penting agar informasi yang diterima masyarakat akurat dan tidak simpang siur.
“Ada sinergi antara sektor, saling memberikan informasi yang akurat kepada para penyelenggara perjalanan ibadah umrah maupun ibadah haji,” kata Mohlis.
Mohlis menegaskan keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama dibandingkan jadwal keberangkatan. Ia mengingatkan kawasan Arab Saudi berada di wilayah strategis yang berdekatan dengan zona konflik, sehingga potensi risiko tetap harus diperhitungkan.
“Kalau kondisi keamanan perjalanan itu tidak bisa meyakinkan, jangan dipaksakan. Menunda atau bahkan membatalkan keberangkatan tidak apa-apa. Yang paling penting adalah memastikan dulu keamanan perjalanan,” ucapnya.
Berbeda dengan haji reguler yang seluruh prosesnya tercatat melalui sistem resmi pemerintah, keberangkatan umrah sering kali dilakukan melalui berbagai agen atau travel, termasuk yang berada di luar Kalimantan Timur. Kondisi ini membuat pendataan jemaah umrah tidak seketat haji reguler.
“Kalau haji reguler itu datanya jelas karena semua berangkat melalui sistem pemerintah. Tapi kalau umrah, banyak yang berangkat lewat travel di luar daerah sehingga sulit terdeteksi,” katanya.
Dengan meningkatnya minat umrah menjelang Ramadan, Kanwil Kemenhaj Kaltim kembali mengingatkan agar masyarakat tidak hanya mempertimbangkan kesiapan finansial dan spiritual, tetapi juga keamanan perjalanan secara menyeluruh.
“Pastikan dulu kondisi perjalanan benar-benar aman. Kalau belum yakin aman, lebih baik ditunda dulu. Risiko perjalanan di tengah situasi seperti ini cukup besar,” ujar Mohlis Hasan.