Rekor Tertinggi, Populasi Burung Kakapo Capai 247 Ekor

  • 02 Mar 2026 08:34 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Selandia Baru - Departemen Konservasi (DOC) Selandia Baru melaporkan keberhasilan signifikan dalam upaya pemulihan populasi Kakapo (Strigops habroptila), burung nuri langka yang tidak dapat terbang. Berdasarkan data resmi tahun 2023, populasi burung endemik ini tercatat telah mencapai 247 ekor di seluruh dunia.

Angka tersebut menjadi pencapaian tertinggi sejak program Kakapo Recovery diluncurkan pada tahun 1995, di mana saat itu populasi hanya tersisa 51 ekor. Peningkatan drastis ini merupakan hasil dari manajemen konservasi intensif yang dilakukan oleh pemerintah Selandia Baru di pulau-pulau bebas predator.

Pakar sains dari Kakapo Recovery DOC, Dr. Andrew Digby, menjelaskan bahwa fenomena musim berbuah (masting) pohon Rimu menjadi pemicu utama ledakan populasi. Ketersediaan buah Rimu (Dacrydium cupressinum) yang melimpah pada tahun 2019 dan 2022 memberikan nutrisi krusial bagi siklus reproduksi burung tersebut.

Laporan tahunan DOC 2022 mencatat sebanyak 55 anak burung berhasil mencapai usia siap terbang (fledgling) dalam satu musim pembiakan. Keberhasilan ini sangat bergantung pada kandungan asam lemak esensial dari buah Rimu yang memicu siklus hormonal Kakapo betina untuk bertelur secara massal.

Selain faktor alam, intervensi medis tingkat tinggi turut berperan dalam menekan tingkat kematian akibat wabah penyakit. Berdasarkan laporan medis dari Auckland Zoo tahun 2019, ancaman jamur Aspergillosis sempat menjangkiti 20 persen populasi Kakapo yang sedang tumbuh.

Namun, data terbaru DOC tahun 2023 menunjukkan bahwa melalui penanganan medis intensif, tingkat kematian akibat penyakit jamur tersebut berhasil ditekan hingga di bawah 2 persen per tahun. Langkah preventif ini memastikan anak burung yang menetas memiliki peluang hidup lebih tinggi hingga usia dewasa.

Manajer Operasional Kakapo Recovery, Deidre Vercoe, menyatakan bahwa penggunaan teknologi canggih menjadi kunci utama keberhasilan model konservasi global ini. Setiap individu Kakapo kini dilengkapi dengan transmitter GPS pintar untuk memantau aktivitas kawin, durasi pengeraman, hingga asupan nutrisi secara real-time.

Inovasi lain yang diterapkan adalah manajemen genetik melalui pengurutan DNA untuk seluruh populasi burung Kakapo yang tersisa. Laporan penelitian dalam jurnal Science Direct (2023) menjelaskan bahwa langkah ini krusial untuk menghindari penurunan kualitas genetik akibat perkawinan sedarah (inbreeding depression).

Meskipun beberapa media global sempat menyebutkan angka populasi mencapai 252 ekor, DOC Selandia Baru tetap merujuk pada angka 247 individu. Perbedaan ini terjadi karena otoritas resmi hanya menghitung individu yang telah melewati fase kritis fledging dan memiliki transmitter aktif.

Upaya penyelamatan Kakapo saat ini dipusatkan pada tiga wilayah utama, yakni Pulau Anchor, Chalky, dan Codfish. Konservasi yang mengintegrasikan sains genomik dan teknologi pemantauan ini diharapkan dapat terus menjauhkan spesies unik tersebut dari ancaman kepunahan total di masa depan.

Rekomendasi Berita