Tradisi Perang Tepung Galaxidi, Simbol Kebebasan dan Budaya Yunani

  • 02 Mar 2026 08:26 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Phocis - Kota pelabuhan bersejarah Galaxidi di wilayah Phocis, Yunani Tengah, kembali menjadi pusat perhatian dunia melalui perayaan tradisi 'Alevromoutzouroma' atau Perang Tepung. Perayaan unik ini diselenggarakan setiap tahun tepat pada hari 'Senin Bersih' (Kathari Deftera), yang menandai dimulainya masa Prapaskah dalam kalender Kristen Ortodoks.

Untuk tahun 2026, tradisi kolosal ini jatuh pada tanggal 23 Februari 2026 dan melibatkan ribuan partisipan dari berbagai penjuru. Berdasarkan informasi resmi dari Visit Greece (Organisasi Pariwisata Nasional Yunani), akar tradisi ini bermula sejak abad ke-19, tepatnya sekitar tahun 1840, pada masa pendudukan Kekaisaran Ottoman.

Laporan dari media global Associated Press (AP News) menyebutkan bahwa festival ini pada awalnya merupakan simbol perlawanan rakyat terhadap penguasa Ottoman. Meskipun ada larangan perayaan publik, warga Galaxidi tetap turun ke jalan dengan mengecat wajah menggunakan arang sebagai bentuk pembangkangan dan ekspresi kebebasan identitas mereka.

Seiring berjalannya waktu, penggunaan arang bertransformasi menjadi tepung warna-warni yang kini menjadi ciri khas utama festival tersebut. Laporan lapangan dari Associated Press pada tahun 2024 dan 2026 memperkirakan lebih dari 1,5 hingga 2 ton tepung berwarna digunakan dalam satu kali perayaan yang memenuhi seluruh area pelabuhan.

Wali Kota Delphi, sebagai otoritas wilayah administratif Galaxidi, menyatakan bahwa perayaan ini merupakan bagian integral dari identitas budaya lokal yang tidak terpisahkan. Pemerintah setempat mewajibkan para peserta untuk menggunakan baju pelindung plastik dan kacamata demi menjaga standar keamanan selama "pertempuran" berlangsung di zona khusus.

Pemerintah kota juga menetapkan protokol perlindungan properti dengan menutup area pemukiman tertentu menggunakan plastik untuk menghindari kerusakan permanen akibat debu tepung. Langkah ini diambil guna menyeimbangkan antusiasme peserta dengan upaya pelestarian bangunan-bangunan bersejarah di kota pelabuhan tersebut agar tetap terjaga dengan baik.

Dalam perspektif akademik, studi antropologi mengenai festival Mediterania menilai perayaan ini sebagai fase 'liminal' atau masa transisi sosial. Tahapan ini dianggap sebagai momen di mana struktur sosial biasa ditangguhkan sejenak bagi masyarakat sebelum mereka memasuki masa asketisme atau puasa Prapaskah selama 40 hari.

Organisasi Pariwisata Nasional Yunani mencatat bahwa festival 'Alevromoutzouroma' merupakan salah satu pendorong utama ekonomi lokal, terutama selama musim dingin. Daya tarik visual dan nilai sejarah yang kuat berhasil menarik ribuan wisatawan mancanegara untuk berkunjung langsung ke Galaxidi setiap tahunnya.

Meskipun terdapat variasi narasi sejarah, seperti laporan Greek Reporter yang menyebutkan adanya pengaruh pelaut dari Sisilia, narasi pemerintah tetap mengedepankan aspek perlawanan terhadap Ottoman. Hingga Februari 2026, festival ini tetap dijalankan secara penuh dengan standar kebersihan pasca-acara yang dikelola secara profesional oleh pemerintah kota Galaxidi.

Rekomendasi Berita