Kemarau Diprediksi Lebih Ekstrem, BMKG Sebut April 2026 Jadi Titik Peralihan
- 05 Mar 2026 21:51 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang: Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), memprediksi musim kemarau datang lebih awal di hampir separuh wilayah Indonesia. Puncak terjadi kemarau diperkirakan pada Agustus dan kondisi umumnya lebih kering serta berdurasi lebih panjang dari normal.
Hal ini disampaikan oleh Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani yang dikutip dari laman resmi Instagram Infobmkg. Ia menegaskan pentingnya langkah antisipasi sejak dini, mulai dari pengelolaan air, penyesuaian pola tanam, hingga kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Sebagian besar wilayah Indonesia di 400 zona musim, 57,2% diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normalnya, yang puncaknya di prediksi terjadi pada bulan Agustus 2026” ungkap Teuku Faisal Fathani, Rabu (4 Maret 2026).
Menurutnya, dari 699 zona musim di Indonesia, terdapat 144 zona musim atau 16,3% akan memasuki musim kemarau pada bulan April 2026. Sementara itu, sebanyak 184 zona musim atau 26,3% diprediksi memasuki musim kemarau pada bulan Mei 2026. Sebanyak 163 zona musim atau 23,3%, mulai memasuki musim kemarau pada bulan Juni 2026.
"Musim kemarau April meliputi wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Bali, NTB dan NTT. Sedangkan wilayah yang dilanda kemarau pada Mei yaitu: Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur serta beberapa Provinsi di Kalimatan dan Papua", sebutnya.
Secara umum, musim kemarau 2026 ini diprediksi bersifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya dan normal. Sebanyak 451 zona musim atau 64,5% berada dibawah normal, dan 245 zona musim atau 35% dalam kondisi normal.
BMKG memberikan rekomendasi kepada Kementerian dan Lembaga, Pemerintah Daerah serta seluruh masyarakat untuk memperhatikan beberapa sektor berikut ini:
Sektor Pangan: Menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanam yang membutuhkan lebih sedikit air, lebih tahan kekeringan serta memiliki siklus tanam yang lebih pendek.
Sektor Sumber Daya Air: melakukan revitalisasi waduk, memperbaiki jaringan distribusi air, serta ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat.
Sektor Energi: memastikan kapasitas air bendungan untuk operasional PLTA.s
Sektor Lingkungan: menyimpan mekanisme respons cepat untuk antisipasi memburuknya kualitas udara.
Sektor Kehutanan dan Kebencanaan: kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan kejian kebakaran hutan dan lahan.
BMKG mengharapkan, informasi prediksi musim kemarau 2026 ini, dapat menjadi panduan dalam penetapan perencanaan, langkah mitigasi dan antisipasi serta kebijakan jangka panjang dari berbagai sektor yang terdampak iklim.