Ratusan Rumah Warga di Cirebon Rusak akibat Puting Beliung
- 12 Mar 2026 08:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Cirebon - Angin puting beliung yang melanda Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu 11 Maret 2026 sore, menyebabkan ratusan rumah warga rusak. BPBD Cirebon mencatat sedikitnya ada 242 unit rumah terdampak di dua kecamatan akibat peristiwa tersebut.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cirebon Hadi Eko mengatakan bencana cuaca ekstrem itu terjadi sekitar pukul 15.20 WIB. Tepatnya, saat hujan deras disertai angin kencang melanda sejumlah wilayah permukiman.
“Dari hasil pendataan sementara hingga pukul 22.35 WIB, tercatat sebanyak 242 unit rumah terdampak. Dengan tingkat kerusakan bervariasi,” kata Eko di Cirebon, Rabu, 11 Maret 2026, malam.
Ia menjelaskan, sebelum kejadian wilayah Kecamatan Gunung Jati dan Suranenggala diliputi awan hitam pekat. Awan tersebut menandakan kondisi cuaca tidak stabil.
Tak lama kemudian, muncul pusaran angin yang bergerak dari arah selatan menuju utara. Dan berkembang menjadi angin puting beliung menerjang kawasan permukiman warga.
“Bencana tersebut berdampak pada dua kecamatan, yakni Kecamatan Suranenggala dan Kecamatan Gunung Jati di Kabupaten Cirebon,” ujarnya. Terjangan angin kencang itu menyebabkan banyak genteng rumah terlepas dan beterbangan.
Selain merusak rumah, angin puting beliung juga menyebabkan sekitar 20 pohon tumbang di beberapa titik. Kondisi tersebut sempat mengganggu akses jalan serta aktivitas masyarakat.
Secara keseluruhan, kejadian tersebut berdampak pada 498 kepala keluarga (KK). Jumlah tersebut sekitar 1.455 jiwa yang tinggal di dua kecamatan tersebut.
Sejumlah fasilitas umum juga dilaporkan mengalami kerusakan, antara lain SD Muara Wetan 1, SD Mertasinga, TK Mertasinga. Serta beberapa mushola seperti Al-Hidayah, Nurul Huda, dan Mushola Mertasinga.
Meski menimbulkan kerusakan cukup luas, BPBD memastikan tidak ada laporan korban meninggal dunia maupun luka-luka dalam peristiwa tersebut. “Tim Pusdalops BPBD Kabupaten Cirebon masih melakukan pendataan serta asesmen untuk penanganan lanjutan di lokasi terdampak,” kata Eko.