Wujudkan Pertanian Rendah Karbon: PPI Jepang Gelar Diskusi Agroforestri Inovatif
- 07 Mei 2025 13:45 WIB
- Purwokerto
KBRN, Banyumas : Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Jepang kembali menunjukkan kiprahnya dalam menjembatani ilmu pengetahuan dan kebijakan. Melalui Biro Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Pertanian, PPI Jepang menyelenggarakan webinar bertajuk “Smart Agroforest Innovation: Paving the Way for Low-Carbon Agriculture”, sebagai bagian dari rangkaian Festival Ilmiah ASSIGN 2025.
Webinar yang dipandu Hangga, mahasiswa doktoral Universitas Kyoto sekaligus Ketua Midori Jepang, menghadirkan diskusi mendalam tentang inovasi agroforestri cerdas yang mendukung pertanian rendah emisi. Midori Jepang sendiri merupakan komunitas diaspora rimbawan Indonesia di Jepang yang kini berkembang menjadi semi start-up penghubung kerja sama kehutanan Indonesia-Jepang.
Ketua PPI Jepang, Prima Gandhi, membuka acara dengan harapan besar. “Kami ingin hasil riset para pelajar Indonesia di Jepang bisa memberikan kontribusi nyata bagi kebijakan lingkungan di tanah air,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima oleh RRI Purwokerto Rabu ( 7/5/2025).
Salah satu sorotan utama datang dari dosen Teknik Lingkungan ITB, Dr. Windy Riana, yang menekankan pentingnya target FOLU Net Sink 2030 dan pemanfaatan teknologi seperti penginderaan jauh serta GIS untuk memantau karbon dan perubahan lahan secara presisi. Ia juga menyoroti pentingnya menjaga lahan gambut sebagai penyimpan karbon alami.
Sementara itu mantan Dirjen Perhutanan Sosial KLHK Dr. Bambang Supriyanto, mengangkat praktik baik dari Lumajang, Jawa Timur. Ia memaparkan bagaimana petani lokal berhasil menggabungkan pohon, tanaman pangan, dan ternak dalam satu lahan melalui pendekatan agroforestri pintar. “Hasilnya, pendapatan keluarga bisa meningkat dua hingga tiga kali lipat, rata-rata mencapai 3,5 juta rupiah per bulan,” ungkapnya.
Tak hanya bicara soal teknologi dan sains, webinar ini juga mengupas faktor sosial seperti perilaku petani, dukungan insentif pemerintah, serta peran tata kelola desa dalam mewujudkan pertanian rendah karbon yang inklusif.
Dukungan juga datang dari Dr. H. Muhammad Zahrul Muttaqin, Atase Kehutanan KBRI Tokyo, yang menyambut baik peluang kerja sama internasional dalam program-program seperti GCF, REDD+, dan jaringan ASEAN.
Diskusi semakin hidup saat salah satu peserta mengusulkan penelitian kolaboratif di Makassar dengan pendekatan integratif: data satelit, verifikasi lapangan, dan kearifan lokal. Usulan ini disambut antusias oleh para narasumber, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan negara.