Cegah Radikalisme Pelajar Via Medsos, FKPT Kalbar Perkuat Sinergi Berdampak Nyata
- 21 Feb 2026 10:39 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Barat memperkuat sinergitas dengan berbagai pihak, termasik dari BNPT RI, Kemenag, DAT 88, Polda Kalbar, BINDA, Kesbangpol Kalbar, KPAD, APKIN, hingga Dinas Pendidikan dan organisasi masyarakat, Jumat, 20 Februari 2026.
Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kolonel Sus Harianto, mewakili Direktur Pencegahan BNPT, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah FKPT Kalbar. Ia menyebut bahwa forum ini krusial untuk merumuskan langkah strategis bagi pimpinan daerah maupun pusat.
"Forum ini diharapkan mampu melahirkan sinergi dalam upaya mencegah radikalisme. Kami berharap forum ini mampu memberikan masukan yang produktif dan konstruktif guna memberikan saran masukan kepada pimpinan sebagai pertimbangan langkah-langkah strategis kita," ucap Kolonel Sus Harianto.
Ia juga mengingatkan bahwa isu ini bukan hanya masalah lokal Kalimantan Barat, melainkan isu nasional bahkan global yang membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
Kemenag: Mencintai Agama Tidak Bertentangan dengan Mencintai Bangsa
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Kalimantan Barat, Muhajirin Yanis, mengingatkan bahwa Kalimantan Barat adalah "rumah besar" keberagaman yang harus dijaga.
"Di provinsi ini kita hidup berdampingan dalam kemajemukan. Modal sosial ini adalah kekuatan besar yang harus terus kita rawat," kata Muhajirin.
Namun, ia tidak menampik adanya ancaman nyata yang masuk melalui gawai para pelajar. Ia mencontohkan bagaimana seorang anak yang sedang mencari jati diri bisa merakit bom hanya dari informasi di internet.
"Radikalisme hari ini tidak selalu hadir dalam bentuk kasat mata. Ia bisa masuk melalui ruang-ruang digital, media sosial, narasi kebencian, bahkan melalui pemahaman keagamaan yang sempit. Yang paling rentan terpapar adalah generasi muda kita, para pelajar yang sedang dalam fase mencari jati diri," ujarnya.
Muhajirin menekankan peran vital guru agama dalam membentuk karakter, bukan sekadar transfer ilmu. Ia juga mengajak para pelajar untuk menanamkan pola pikir kritis dengan prinsip "saring sebelum sharing".
"Pelajar perlu diajak memahami bahwa mencintai agama tidak bertentangan dengan mencintai bangsa," kata Muhajirin.
Poin penting itu juga dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Aksi Bersama Cegah Radikalisme di Kalangan Pelajar di Kalimantan Barat yang dilaksanakan sebagai respons cepat terhadap fenomena massifnya paparan paham radikal yang kini menyasar generasi muda melalui ruang digital di Aula Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat, Rabu, 11 Februari 2026.
Kegiatan ini merekomendasikan rumusan penanganan radikalisme di kalangan pelajar Kalbar, salah satunya memperkuat kolaborasi mitigasi lintas sektorsl, character building dan parenting bagi guru BK dan orangtua pelajar.
Diskusi ini menyoroti urgensi perlindungan pelajar yang dinilai sebagai kelompok rentan dalam perang proksi ideologi.
Gerakan Senyap via Algoritma
Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Kepala Bidang Perempuan dan Anak FKPT Kalbar, Umi Marzuqoh, dalam laporannya menegaskan bahwa radikalisme kini bergerak semakin halus dan senyap.
"Radikalisme kini bergerak halus melalui algoritma, konten visual, dan jejaring daring yang menyasar usia anak sekolah. Pelajar merupakan kelompok yang rentan terpapar paham ini," ujar Umi Marzuqoh.
Ia menekankan bahwa upaya pencegahan tidak bisa dilakukan setengah hati. Umi mendorong penguatan ketahanan keluarga sebagai benteng pertamanya.
"Perlu upaya memperkuat kesadaran pelajar, mempertahankan ketahanan keluarga sebagai benteng pertama, serta meningkatkan peran guru dalam meningkatkan literasi kebangsaan dan digital," katanya.
Baca juga: Ketua FKPT Kalbar: Pelajar Merakit Bom Itu Tanda Bahaya Radikalisme