Wamendiktisaintek Soroti Potensi Besar Karet Riau
- 13 Mar 2026 15:28 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Kunjungan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie ke Universitas Riau pada Jumat 13 Maret 2026 menjadi momentum penting untuk membahas potensi pengembangan komoditas karet di Provinsi Riau. Diskusi tersebut berlangsung dalam acara pemaparan dan diskusi riset unggulan Universitas Riau yang digelar di Ruang Teater Pakning Integrated Classroom, Universitas Riau.
Kegiatan ini mempertemukan pimpinan kementerian dengan para akademisi untuk membahas peluang hilirisasi riset yang dapat berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya petani karet. Dalam diskusi tersebut, Stella Christie menyoroti pentingnya riset yang mampu memberikan solusi nyata bagi petani. Ia mempertanyakan sejauh mana penelitian yang dilakukan perguruan tinggi telah mampu mendorong perubahan pola produksi petani karet dari bahan mentah menuju produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
“Apakah sudah ada riset yang secara langsung memperlihatkan kepada petani bagaimana agar mereka tidak lagi dalam bentuk bokar, tetapi dalam bentuk lateks karet cair,” ujar Stella Christie dalam sesi diskusi.
Pertanyaan tersebut kemudian ditanggapi oleh Prof Rudy, Dosen Universitas Riau, yang menjelaskan bahwa riset terkait pemanfaatan karbon dari karet sedang dikembangkan dengan pendekatan teknologi material. Menurutnya, inovasi tersebut berpotensi menghasilkan produk bernilai tinggi dengan biaya produksi yang lebih efisien.
Ia menjelaskan bahwa teknologi yang berkembang di beberapa negara seperti China dan Korea masih menggunakan perekat (binder) dalam proses pembuatan material karbon. Sementara riset yang dikembangkan timnya mencoba pendekatan berbeda dengan mencampurkan hard carbon dan soft carbon sehingga dapat membentuk padatan tanpa menggunakan perekat.
“Keunggulan kita adalah menggunakan padatan karbon dari hard carbon yang dicampur dengan soft carbon sehingga menjadi padatan tanpa perekat. Ini memiliki keunggulan biaya yang lebih murah karena tidak menggunakan binder, sekaligus memberikan kapasitas penyimpanan yang maksimal,” jelas Prof Rudy.
Sementara itu, Prof Baharudin, Dosen Universitas Riau lainnya, menyoroti kondisi kelembagaan petani karet di Riau yang sebenarnya sudah cukup kuat. Ia menjelaskan bahwa di Kabupaten Kuantan Singingi telah terbentuk ratusan asosiasi petani karet yang telah beroperasi selama bertahun-tahun.
“Di Riau, khususnya di Kuantan Singingi, sudah ada sekitar 400 asosiasi petani karet yang cukup mapan sejak belasan tahun lalu. Mereka membawahi sekitar 1.400 petani karet. Selama ini mereka memproduksi bokar dan menjaga kualitasnya sehingga harga bokar mereka lebih tinggi dibandingkan petani di luar kelompok tersebut,” ujar Prof Baharudin.
Diskusi tersebut menunjukkan bahwa Riau memiliki potensi besar dalam pengembangan industri karet berbasis riset. Dengan dukungan perguruan tinggi, teknologi pengolahan karet diharapkan dapat berkembang dari sekadar produksi bahan mentah menjadi produk hilir bernilai tinggi, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani serta memperkuat posisi Riau dalam industri karet nasional.