Kemenag Perkuat Peran Agama Dalam Pembangunan Nasional
- 03 Nov 2025 11:32 WIB
- Pekanbaru
KBRN Pekanbaru: Genap satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi momentum refleksi bagi Kementerian Agama (Kemenag) untuk meneguhkan perannya sebagai penjaga harmoni, pendidik bangsa, sekaligus penggerak kesejahteraan umat.
Di bawah kepemimpinan Menteri Agama Nasaruddin Umar, Kemenag berkomitmen menerjemahkan visi besar Asta Cita ke dalam langkah konkret, mulai dari menjaga kerukunan umat beragama, memperkuat pendidikan keagamaan, hingga meningkatkan kesejahteraan para guru dan pelaku pendidikan.
“Asta Cita bukan sekadar agenda politik, tapi arah moral bangsa. Nilai agama harus hidup dalam kebijakan yang memuliakan manusia,” ujar Menag Nasaruddin Umar dalam refleksi setahun perjalanan Kemenag, di Jakarta, Selasa (21/10/2025).
Menjaga kerukunan menjadi prioritas utama Kemenag dalam menjalankan cita ke-8 Asta Cita yang menekankan pentingnya harmoni sosial dan toleransi. Kemenag meluncurkan sistem Si-Rukun (Early Warning System) untuk mendeteksi potensi konflik keagamaan di berbagai daerah secara dini.
Sebanyak 500 penyuluh agama dilatih sebagai mediator resolusi konflik di lapangan. Tak hanya itu, 300 penyuluh sosial-keagamaan, 600 penceramah moderat, dan 200 dai muda adaptif juga dibina agar mampu berdakwah dengan pendekatan kontekstual dan literasi digital.
Langkah ini turut memperkuat indeks kerukunan nasional. Berdasarkan survei Poltracking Indonesia, program menjaga kerukunan antarumat beragama menempati posisi tertinggi keberhasilan pemerintahan Prabowo–Gibran dengan tingkat kepuasan publik 86,7%.
Dalam mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG), Kemenag menyalurkan manfaat kepada lebih dari 1,7 juta siswa madrasah dan pesantren serta 12,5 juta pelajar lintas agama.
Kemenag juga memperkuat pemberdayaan ekonomi melalui program Masjid Berdaya dan Berdampak (MADADA) yang telah membantu 4.450 UMKM dengan pinjaman tanpa bunga (qardhul hasan).
Untuk meningkatkan ketahanan keluarga, 17.266 pasangan mengikuti program bimbingan keluarga lintas agama, dari Bimbingan Perkawinan Islam hingga Hittasukhaya bagi umat Buddha.
“Inilah dakwah sosial yang kami perjuangkan: agama hadir di ruang publik, memperkuat keluarga, ekonomi, dan solidaritas sosial,” kata Menag.
Kemenag mencatat lompatan signifikan dalam peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik. Untuk pertama kalinya, tunjangan profesi guru non-PNS naik dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan. Sebanyak 206.325 guru mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG), meningkat tujuh kali lipat dari tahun sebelumnya.
Kemenag juga memperluas akses pendidikan tinggi keagamaan dengan menyalurkan 156.581 beasiswa KIP Kuliah, 6.453 Beasiswa Indonesia Bangkit, dan 2.270 Beasiswa Santri Berprestasi.
Simbol inklusivitas pendidikan juga diwujudkan dengan berdirinya Sekolah Tinggi Agama Khonghucu Indonesia Negeri (SETIAKIN) di Bangka Belitung, lembaga negeri pertama bagi umat Khonghucu di Indonesia.
Dalam mendukung Asta Cita poin kedua tentang kemandirian ekonomi hijau, Kemenag mengembangkan 37 Kampung Zakat, 29 inkubasi wakaf produktif, dan 10 Kota Wakaf di seluruh Indonesia.
Lebih dari 105.000 sertifikat tanah wakaf telah diterbitkan, serta 40 hektare Hutan Wakaf dibuka sebagai langkah integrasi antara ekonomi dan ekoteologi.
Kemenag juga mendorong kesadaran lingkungan melalui gerakan ekoteologi, dengan aksi nyata menanam lebih dari satu juta pohon, membangun 13 KUA berbasis green building, dan menerbitkan buku “Tafsir Ayat-Ayat Ekologi”.
Membumikan Nilai Agama dalam Kebijakan
Menutup refleksi setahun perjalanan, Menag Nasaruddin Umar menegaskan bahwa ukuran keberhasilan Kemenag bukan hanya dalam bentuk program, tetapi dalam nilai-nilai agama yang benar-benar dihidupkan melalui kebijakan publik.
“Agama tidak boleh berhenti di mimbar. Ia harus hadir dalam kebijakan yang menyejahterakan dan memuliakan manusia. Itulah semangat Asta Cita yang kami kawal dengan sepenuh hati,” ungkapnya.
Menag juga menyampaikan apresiasi kepada insan pers dan masyarakat yang terus mengawal perjalanan Kemenag dengan kritis dan konstruktif.
“Kritik dan dukungan publik adalah bagian dari ibadah kami dalam melayani umat,” katanya.