Literasi Keuangan Generasi Muda di Sulteng Masih Rendah

  • 12 Mar 2026 21:51 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu - Pendiri Hannah Asa Indonesia, Mardiyah menyoroti lemahnya kemampuan generasi muda di Sulawesi Tengah dalam hal pengelolaan keuangan. Hal tersebut ia sampaikan usai pelaksanaan Bootcamp Smart Financial Journey Batch ke-60 di kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tengah, Kamis, 12 Maret 2026.

Mardiyah menyebut, kelemahan tersebut mencakup pada tiga aspek, yakni tidak adanya tujuan keuangan, tidak melakukan pencatatan keuangan, serta tidak punya dana darurat. Ketiga aspek tersebut menurutnya menjadi pemicu terjadinya permasalahan keuangan bagi generasi muda atau Financial Stress.

“Kita ingin orang yang sudah punya produk keuangan supaya dia lebih aware lagi, karena di Sulawesi Tengah khususnya anak muda itu punya kelemahan yang besar dalam pengelolaan keuangan,” ucap Mardiyah.

Karena hal itu, Hannah Asa Indonesia menghadirkan program Bootcamp Financial Journey yang saat ini telah memasuki seri ke-60. Program ini dihadirkan sebagai upaya dalam mendorong peningkatan kecerdasan finansial generasi muda di Sulawesi Tengah.

“Kita ingin mengajak anak muda Sulawesi Tengah khususnya Kota Palu biar lebih cerdas lagi di dalam mengelola keuangan,” ucapnya Mardiyah.

Melalui kegiatan bootcamp yang rutin dilaksanakan, Hannah Asa Indonesia yang berkolaborasi bersama OJK Sulawesi Tengah dan Bursa Efek Indonesia terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan.

“Jadi kita pengen sama-sama nih buat ekosistem edukasi, literasi, dan inklusi keuangan,” ujarnya.

Mardiyah menambahkan, sepanjang Januari hingga Maret 2026, Hannah Asa Indonesia telah sukses mengedukasi lebih dari 3.231 peserta melalui kelas daring maupun luring. Program rutin ini diharapkan dapat melatih para peserta untuk mampu mengelola pengeluaran.

“Kita ingin teman-teman punya kemampuan mengelola pengeluaran, misalnya 50 persen Untuk kebutuhan, 30 bisa masuk ke investasi, kemudian 20 persen bisa dimasukkan ke dalam pos dana darurat dan seterusnya,” katanya.

Meski begitu, Mardiyah mengakui kemajuan teknologi digital seperti e-commerce menjadi salah satu tantangan utama bagi generasi muda untuk mengelola keuangan karena ketidakmampuan mengontrol hasrat berbelanja atau Doom Spending. Ia menilai kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan seringkali menjadi salah satu masalah bagi generasi muda ditengah kemudahan akses berbelanja .

“Seringkali uang yang digunakan sebenarnya tinggal sedikit dan digunakan untuk berbelanja barang yang bukan sesuatu yang dibutuhkan, jadi harus ada kemampuan untuk membedakan keinginan dan kebutuhan,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu Mardiyah menegaskan komitmen Hannah Asa Indonesia untuk terus mendorong penguatan literasi dan inklusi keuangan di Sulawesi Tengah. Hal itu dilakukan dengan harapan mampu memberikan dampak terhadap indeks pembangunan manusia, kecerdasan finansial, hingga memutus rantai kemiskinan di Sulawesi Tengah.

Rekomendasi Berita