Bambang Haryo: Negara Wajib Penuhi Kebutuhan Sandang

  • 17 Jan 2026 07:55 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, mengapresiasi langkah pemerintah yang berencana menghidupkan kembali BUMN di sektor tekstil atau sandang. Menurutnya, sandang merupakan kebutuhan dasar manusia yang wajib dijamin negara.

“Pemerintah memang memiliki kewajiban untuk menjamin kebutuhan dasar manusia, sebagaimana diamanatkan UUD 1945 dan UU Nomor 13 Tahun 2011 tentang penanganan fakir miskin,” kata Bambang, Jumat, 17 Januari 2026.

Ia menegaskan, kebutuhan dasar manusia mencakup sandang, pangan, dan papan. Bahkan, menurutnya, sandang seharusnya menjadi prioritas pertama yang dipenuhi negara.

“Sandang ini sangat penting sebagai kebutuhan dasar masyarakat yang wajib dipenuhi oleh negara, sesuai Pasal 34 Ayat 1 UUD 1945,” ujar pria yang akrab disapa BHS itu.

Bambang mengaku prihatin atas dibubarkannya BUMN sandang pada era pemerintahan sebelumnya. Ia menyinggung pembubaran Industri Sandang Nusantara (ISN), BUMN tekstil yang berdiri sejak 1961, melalui PP Nomor 14 Tahun 2020.

“BUMN Sandang seharusnya tetap ada dan dijamin hidup oleh negara. Pembubaran ISN dan pelelangan asetnya sangat disayangkan, karena jaminan sandang ini menyangkut seluruh rakyat Indonesia,” jelas politisi dari Fraksi Partai Gerindra itu.

Menurutnya, keberadaan BUMN Sandang penting sebagai stabilisator industri. BUMN berperan mencegah kartelisasi ribuan industri sandang nasional, menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan, menekan harga agar tetap terjangkau, serta menjamin mutu produk.

“BUMN Sandang harus menjadi stabilisator harga dan kualitas, agar harga di pasar tidak melambung karena ada BUMN sebagai pesaing,” tandasnya.

Bambang Haryo pun menyambut positif langkah Presiden Prabowo Subianto yang berkomitmen membangun kembali industri sandang nasional.

“Ini tindakan kemanusiaan yang sangat baik. Jangan sampai kesalahan menutup industri sandang itu terulang kembali,” imbuhnya.

Ia juga menilai rencana pemerintah meningkatkan nilai ekspor industri sandang dari 4 miliar dolar AS menjadi 40 miliar dolar AS dalam 10 tahun sebagai target yang masuk akal.

“Ini reasonable jika disertai keseriusan dan inovasi tinggi, sehingga industri sandang kita mampu bersaing di pasar global,” ucap Bambang.

Target tersebut dinilai makin realistis jika industri sandang nasional menggunakan bahan baku dalam negeri. Saat ini, impor bahan baku dari China masih berkisar 60–90 persen.

“Jika kapas dan industri hulu bisa dipenuhi dari dalam negeri, impor bisa ditekan drastis dengan dukungan industri swasta yang inovatif,” bebernya.

Selain itu, Bambang mendorong penguatan industri ekonomi kreatif agar melahirkan produk sandang unik yang memiliki daya tarik global.

“Anggaran ekraf masih sangat kecil. Padahal, sektor ini bisa melahirkan produk spesifik yang tidak ada padanannya di dunia dan diminati pasar luar negeri,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih mencintai dan menggunakan produk dalam negeri, agar pertumbuhan industri sandang tidak hanya bertumpu pada ekspor.

“Yang naik bukan hanya ekspor, tapi juga konsumsi dalam negeri. Masyarakat harus bangga dan menggunakan produk sandang nasional,” kata Bambang mengakhiri.

Rekomendasi Berita