Densus 88 Ungkap Pola Baru Indoktrinasi Teror

  • 25 Feb 2026 21:09 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Aparat penegak hukum mengungkap adanya perubahan signifikan dalam metode indoktrinasi yang digunakan jaringan teror dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya perekrutan dilakukan melalui pertemuan tertutup dan jaringan pertemanan langsung, (fisik) kini proses tersebut lebih banyak berlangsung di ruang digital dengan pendekatan yang lebih personal dan terselubung.

Nicolas Saputra, Tim Pencegahan Satgaswil Sumsel Densus 88 AT Polri, menjelaskan pola “cuci otak” saat ini tidak lagi melalui fisik, culik langsung (frontal). “Dulu mereka banyak mengandalkan pertemuan fisik, sekarang pendekatannya lebih halus. Calon target didekati lewat media sosial, diajak diskusi ringan, lalu perlahan diarahkan ke pemahaman yang menyimpang,” ungkapnya dalam acara Dialog Moderasi Beragama RRI, Selasa 24 Februari 2026.

Ia juga mengatakan, bahwa jaringan teror memanfaatkan algoritma media sosial dan ruang obrolan privat untuk membangun kedekatan emosional dengan calon anggota. Konten yang dibagikan pun tidak selalu bernuansa kekerasan secara terang-terangan, melainkan dikemas dalam narasi keagamaan, isu kemanusiaan, atau ketidakadilan sosial.

“Prosesnya bertahap. Mereka membangun rasa percaya terlebih dahulu. Setelah itu, barulah doktrin dimasukkan sedikit demi sedikit. Ini yang membuat metode sekarang lebih sulit terdeteksi,” katanya.

Perubahan strategi ini dinilai sebagai bentuk adaptasi terhadap pengawasan aparat yang semakin ketat terhadap aktivitas kelompok radikal di ruang publik. Dengan memanfaatkan komunikasi digital yang bersifat privat dan terenkripsi, proses indoktrinasi dapat berlangsung tanpa harus mempertemukan anggota secara langsung.

Densus 88 juga mencatat bahwa sasaran perekrutan kini semakin luas, termasuk kalangan muda yang aktif di dunia maya. Minimnya literasi digital dan kecenderungan mencari jati diri menjadi celah yang kerap dimanfaatkan jaringan tersebut.

Untuk mengantisipasi hal ini, aparat mengintensifkan patroli siber serta memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan dan keluarga. Edukasi mengenai bahaya radikalisme di ruang digital menjadi salah satu langkah pencegahan yang terus digalakkan.

“Kami tidak hanya melakukan penindakan, tetapi juga pencegahan. Peran orang tua, guru, dan lingkungan sangat penting untuk mendeteksi perubahan perilaku yang mengarah pada paparan paham ekstrem,” tutupnya.

Rekomendasi Berita