Kemdiktisaintek Bentuk Konsorsium Riset Genomik Nasional
- 13 Feb 2026 04:13 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan riset genomik nasional. Langkah ini diwujudkan melalui pembentukan konsorsium riset yang melibatkan berbagai lembaga strategis di Indonesia.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menjelaskan bahwa konsorsium ini akan menyatukan kekuatan dari sektor kesehatan dan akademisi. Dalam keterangan resmi yang didapat RRI Palangka Raya, Kemdiktisaintek bakal melibatkan peneliti dari berbagai lembaga atau instansi.
"Kita akan membentuk satu konsorsium riset yang melibatkan Kemenkes, peneliti dari perguruan tinggi, maupun dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)," ujar Menteri Brian saat menghadiri Roadshow Biomedical Genome Science Initiative (BGSI) di Kantor Kemenkes, Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026
Genom adalah informasi genetik dalam sel makhluk hidup. Melalui teknologi sequencing, ilmuwan dapat memahami mekanisme penyakit dan respons tubuh pasien, yang kemudian melahirkan pendekatan precision medicine atau kesehatan presisi.
Hingga saat ini, program BGSI telah mencatatkan progres signifikan seperti lebih dari 15.000 sampel telah melalui proses sequencing serta lebih dari 1.900 hasil targeted sequencing telah dikembalikan. Kemudian, dari sisi kolaborasi ada lebih dari 20 Nota Kesepahaman (MoU) telah ditandatangani serta telah terjalin kerja sama lintas disiplin
Mendiktisaintek menekankan bahwa perguruan tinggi harus menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dalam ekosistem ini. Proyek riset akan difokuskan pada penyakit prioritas seperti stroke, jantung, dan kanker payudara sebagai pilot project. "Kita perlu bekerja sebagai satu tim. Kita tentukan bersama proyek riset prioritas secara terfokus, melibatkan perguruan tinggi, rumah sakit, BRIN, serta terbuka untuk kolaborasi dengan peneliti internasional," ucap Menteri Brian tegas.
Senada dengan itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa riset genomik membutuhkan kerja sama berbagai disiplin ilmu, mulai dari biologi, kimia, matematika, hingga kecerdasan artifisial (AI). Melalui sinergi Kemdiktisaintek, Kemenkes, dan BRIN, Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan kekayaan biodiversitasnya untuk menjadi pusat riset genomik global yang berdampak langsung pada pelayanan publik.
"Dengan memahami genom, diagnosis dan pengobatan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. Kita bisa periksa dengan pasti ketika ciri-ciri penyakit sudah muncul, lalu langsung tahu bagaimana cara mengobatinya dengan presisi. Ini yang akan mereformasi industri kesehatan di Indonesia," kata Menkes Budi.