Menteri ATR Evaluasi Tata Ruang Sumatera Pascabencana Banjir-Bandang

  • 04 Des 2025 19:06 WIB
  •  Nias Selatan

KBRN, Nias Selatan: Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) memastikan akan segera melakukan evaluasi mendalam terhadap tata ruang di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menyusul bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda kawasan tersebut baru-baru ini.

Langkah strategis ini diambil untuk memastikan pemanfaatan ruang selaras dengan karakter lingkungan dan bertujuan utama meminimalkan risiko bencana serupa di masa mendatang. Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid, menyampaikan bahwa evaluasi ini akan dimulai segera setelah tahap tanggap darurat bencana selesai.

“Kalau sudah tahap tanggap darurat selesai, kami pasti akan melakukan evaluasi tata ruang. Mana yang tidak sesuai dengan pola ruangnya, kita ubah supaya sesuai,” tegas Menteri Nusron kepada awak media usai acara Indonesia Punya Kamu di Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang, Jawa Tengah, Selasa (2/12/2025).

Menurut Menteri Nusron, praktik serupa telah dilakukan pemerintah sebelumnya, mencontoh kasus penataan kembali pola ruang pascabanjir di Jakarta. Hasil evaluasi tersebut menghasilkan rekomendasi perubahan signifikan pada sejumlah kawasan yang dinilai tidak adaptif terhadap potensi bencana dan daya dukung lingkungan setempat.

Kementerian ATR/BPN menekankan bahwa proses evaluasi dan penyesuaian Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) ini tidak dapat berjalan sendiri. Kementerian akan menggandeng erat pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota) sebagai pemegang kewenangan utama atas RTRW, serta melibatkan kementerian terkait lintas sektor.

Menteri Nusron menegaskan kolaborasi ini penting agar penyesuaian tata ruang yang dihasilkan tidak sekadar bersifat administratif. Targetnya adalah menghasilkan kebijakan ruang yang tepat sasaran dan benar-benar mampu melindungi masyarakat dari ancaman bencana.

“Konsistensi penerapan tata ruang adalah instrumen penting pencegahan bencana. Banyak kejadian banjir atau longsor bermula dari praktik pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan daya dukung lingkungan setempat,” ujar Menteri Nusron.

Melalui evaluasi pascabencana ini, pemerintah berharap dapat memperkuat sistem tata ruang yang lebih defensif terhadap risiko bencana di masa depan. Hal ini penting mengingat seringnya bencana alam dipicu oleh pemanfaatan ruang yang tidak mengindahkan daya dukung lingkungan.

Di akhir keterangannya, Menteri Nusron menyampaikan rasa duka cita yang mendalam bagi para korban di tiga wilayah Sumatera bagian Utara tersebut.

“Kita doakan saudara-saudara kita yang menjadi korban banjir di Sumatera, semoga yang wafat diterima Allah, dosanya diampuni, dan amalnya diterima. Keluarga yang ditinggalkan semoga diberi kesabaran, dan bencana ini segera mereda tanpa meluas ke daerah lain,” tutupnya.

Rekomendasi Berita