Komisi X DPR Nilai AI Dapat Perkuat Kerja Jurnalistik di Era Digital
- 16 Mar 2026 05:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Komisi X DPR RI menilai, kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi profesi jurnalis. Kehadiran AI, diyakininya sebagai instrumen yang dapat memperkuat kerja-kerja jurnalistik di era digital.
Pernyataan tegas ini, diungkapkan oleh Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian. Politikus Golkar ini mengatakan, AI tidak hadir untuk menggantikan posisi jurnalis.
"Ia adalah tools yang dapat membantu mempercepat proses pengolahan data, memperkaya analisis, dan mendukung kerja investigasi. Namun keputusan editorial, kepekaan terhadap konteks sosial, serta tanggung jawab etik tetap berada di tangan manusia,” kata Hetifah dalam sambutannya di acara diskusi 'Smart Journalism: Integrasi Data, Riset, dan Kecerdasan Buatan untuk Pemberitaan Berkualitas' bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di Jakarta Barat, Minggu, 15 Maret 2026.
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi AI menandai fase baru dalam industri media global. Kehadiran teknologi tersebut, berpeluang membuka ruang baru bagi jurnalisme yang lebih berbasis data dan riset.
“Di banyak negara, otomatisasi sudah menjadi bagian dari ekosistem media modern, hal ini bukan berarti jurnalisme kehilangan ruhnya. Dengan dukungan teknologi, jurnalis lebih fokus pada kerja analitis, investigatif, dan verifikasi fakta yang menjadi inti dari profesi ini,” ucap Hetifah.
Kemudian, Hetifah menyoroti, hasil survei yang dilakukan oleh Vero ASEAN. Survei tersebut, menunjukkan mayoritas jurnalis di Indonesia telah mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan dalam aktivitas profesional jurnalistik.
“Sekitar 75 persen jurnalis di Indonesia menggunakan AI sebagai alat bantu kerja. Bahkan 84 persen responden menilai teknologi ini memberikan dampak positif terhadap produktivitas mereka," ujar Hetifah.
Hal ini menandakan, kata Hetifah, komunitas jurnalis di Indonesia cukup adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Meski demikian, Hetifah menekankan, kecepatan produksi informasi oleh AI tidak boleh mengorbankan akurasi dan kredibilitas media.
“Publik tidak hanya membutuhkan berita yang cepat, tetapi juga yang dapat dipercaya. Dalam ekosistem informasi yang semakin kompleks, akurasi, verifikasi, dan kedalaman analisis justru menjadi nilai pembeda," kata Hetifah.
Kemudian, ia mengingatkan, pemanfaatan AI dalam praktik jurnalistik harus dibarengi dengan kerangka etika yang jelas. Semua itu, demi tidak menimbulkan erosi kepercayaan publik terhadap media.
“Teknologi selalu membawa dua sisi, peluang dan risiko. Jika tidak disertai standar etika yang kuat, penggunaan AI justru bisa memunculkan persoalan baru," ucap Hetifah.
Hal senada juga diungkapkan, Peneliti Ahli Madya BRIN, Hanif Fakhrurroja dan Direktur Metodologi Statistik dan Sains Data BRIN, Setia Pramana. Keduanya membahas pentingnya pemanfaatan data, metodologi statistik, serta teknologi kecerdasan buatan dalam memperkuat kualitas analisis dan pemberitaan media.
Dalam paparannya, para narasumber menyoroti bahwa jurnalisme masa depan akan semakin bergantung pada kemampuan mengolah data secara akurat. Serta, memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung proses analisis informasi.
Namun demikian, integritas jurnalistik tetap menjadi faktor utama. Yakni, demi teknologi AI tidak disalahgunakan dalam produksi berita.