Komnas Haji Soroti Konflik Iran-AS Berdampak pada Pelaksanaan Haji 2026

  • 16 Mar 2026 15:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Komnas Haji Mustolih Siradj memperingatkan potensi dampak perang Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Konflik ini dapat memengaruhi pelaksanaan ibadah haji 2026.

Ia menekankan, keselamatan warga negara Indonesia (WNI) yang akan berangkat haji harus menjadi prioritas utama. Terlebih jika perang meluas dan situasi di kawasan memburuk.

"Keamanan dan ruang udara untuk penerbangan menjadi faktor sangat krusial. Sehingga ini harus menjadi perhatian khusus," kata Mustolih dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin, 16 Maret 2026.

Jumlah jemaah Indonesia tahun ini mencapai 221 ribu orang. Gelombang perdana pemberangkatan kelompok terbang (kloter) akan berlangsung kurang dari dua bulan lagi.

"Kementerian Haji dan Umrah menghadapi ujian berat, situasi kawasan Timur Tengah tengah berkecamuk perang. Sehingga, kondisi ini menjadi tantangan bagi penyelenggara haji," ujarnya.

Ia mengatakan, penyelenggaraan ibadah haji menandai transisi dari Kementerian Agama ke Kemenhaj. Situasi ini berada di persimpangan dan dilema kebijakan.

Di satu sisi keselamatan jemaah mutlak harus dijaga. Namun, membatalkan pemberangkatan sepihak akan menimbulkan antrean waiting list menjadi masif.

"Ini menimbulkan menumpuknya antrean (waiting list) ibadah haji. Karena, triliunan rupiah biaya haji sudah dibayarkan dan kontrak dengan pihak swasta sudah berjalan," katanya.

Jika dibatalkan, lanjut dia, biaya penerbangan, hotel, konsumsi, transportasi, dan Masyair menjadi rumit. "Terlebih kontrak-kontrak tersebut dilakukan dengan pihak swasta (syarikah)," ucapnya.

Mustolih menekankan, Kemenhaj harus berhati-hati dalam mengambil keputusan. Keputusan harus melalui kajian intensif bersama DPR, Kemenlu, BIN, TNI, dan Kedutaan.

"Kita harus melihat sikap negara mayoritas muslim pengirim jemaah. Misalnya, seperti Malaysia, Yaman, Pakistan, dan Turki," kata Mustolih.

Namun, kata dia, yang paling penting adalah kebijakan Kerajaan Arab Saudi sebagai tuan rumah haji. "Apakah tetap menyelenggarakan tanpa pembatasan atau dengan skema terbatas seperti pandemi," ujarnya.

Jika perang meluas, situasi sangat dinamis dan sulit diprediksi. Sampai kini, Arab Saudi menyatakan siap menyelenggarakan ibadah haji 2026.

Mustolih menekankan Kemenhaj harus meminta jaminan keamanan penuh bagi jemaah Indonesia. "Indonesia adalah pengirim jemaah terbesar di dunia," katanya.

Dalam sejarah, pengiriman jemaah haji Indonesia sering berjalan saat konflik global. Bahkan pada Perang Dunia dan Perang Teluk, keberangkatan tetap dilakukan.

Rekomendasi Berita