Pemerintah Larang Siswa Gunakan AI untuk Jawab Soal, Pemerhati Bilang Begini
- 14 Mar 2026 12:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) semakin berkembang dalam dunia pendidikan. Terkait hal ini, pemerintah mulai menerapkan pembatasan penggunaan AI seperti ChatGPT oleh siswa.
Pembatasan diantaranya berupa larangan siswa SD-SMA menggunakan AI instan seperti chatGPT untuk menjawab soal-soal dari guru. Larangan tersebut dilakukan untuk mencegah ketergantungan siswa terhadap teknologi.
Direktur Eksekutif Center for Education Regulations and Development Analysis, Indra Charismiadji mengatakan, larangan saja bukan solusi utama. Hal itu lantaran, perkembangan teknologi AI tidak mungkin dihindari.
“Perkembangan teknologi AI ini tidak bisa kita hindari. Untuk itu yang lebih penting adalah bagaimana memanfaatkannya untuk hal-hal positif,” kata Indra, saat diwawancara Pro 3 RRI, Jumat, 13 Maret 2026.
Menurutnya, setiap teknologi selalu memiliki konsekuensi atau trade off dalam penggunaannya. Teknologi dapat memberikan kemudahan, tetapi juga berpotensi mengurangi beberapa aspek tradisional.
Ia mencontohkan perbedaan cara memasak tradisional dengan teknologi modern. “Seperti nasi yang dimasak dengan dandang dibandingkan rice cooker, atau bakmi jawa arang dengan kompor gas,” ujarnya.
Indra menjelaskan cara tradisional mungkin lebih unggul dalam rasa. Namun, masyarakat modern lebih memilih teknologi karena efisiensi waktu.
Ia menilai Indonesia memiliki masalah pendidikan yang lebih mendasar. Salah satunya adalah rendahnya kemampuan literasi masyarakat.
Kondisi tersebut membuat siswa cenderung menggunakan AI tanpa memahami materi sebenarnya. “Banyak anak mencari jalan pintas menggunakan AI karena kemampuan membaca mereka lemah,” ujar Indra.
Ia menegaskan penguatan literasi dasar harus menjadi prioritas pemerintah. Kemampuan membaca dan matematika dinilai jauh lebih penting untuk diperbaiki.
Indra juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam pendidikan anak. Selama ini tanggung jawab pendidikan dinilai terlalu dibebankan kepada sekolah.
“Pendidikan bukan hanya persekolahan, tetapi juga melibatkan keluarga dan masyarakat,” kata Indra. Ia menilai orang tua perlu dilibatkan dalam mendidik anak di rumah.
Menurutnya, teknologi AI justru dapat dimanfaatkan sebagai alat pembelajaran bersama keluarga. Misalnya membantu membuat jadwal liburan bersama.
Selain itu, AI juga bisa dimanfaatkan untuk mendorong kreativitas dan inovasi siswa. Contohnya membuat animasi cerita rakyat atau proyek kreatif berbasis teknologi.
Indra menegaskan penggunaan AI seharusnya tidak hanya untuk menjawab soal. Teknologi tersebut seharusnya mendorong anak berpikir, berimajinasi, dan menciptakan karya baru.