Kapal Perang Italia-Spanyol Lindungi Armada Bantuan Gaza
- 26 Sep 2025 17:16 WIB
- Meulaboh
KBRN, Jakarta: Italia dan Spanyol mengerahkan kapal angkatan laut untuk melindungi armada bantuan internasional Global Sumud Flotilla. Armada tersebut sebelumnya mendapat serangan drone saat berlayar menuju Gaza, dilansir dari Reuters, Jumat (26/9/2025).
Langkah ini dinilai dapat meningkatkan ketegangan dengan Israel yang sejak awal menentang keras inisiatif tersebut. Armada Global Sumud Flotilla terdiri dari sekitar 50 kapal sipil yang berupaya menembus blokade laut Israel atas Gaza.
Sejumlah pengacara, anggota parlemen, dan aktivis ikut serta, termasuk aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg. Italia lebih dulu mengirim fregat pada Rabu (24/9/2025), beberapa jam setelah armada melaporkan serangan, dan berencana menggantinya dengan kapal lain.
Menteri Pertahanan Guido Crosetto menegaskan bahwa pengiriman kapal bukanlah provokasi, melainkan tindakan kemanusiaan untuk melindungi warga. Kementerian Luar Negeri Italia menyebut Belgia, Prancis, dan beberapa negara Eropa lainnya meminta bantuan perlindungan.
Permintaan tersebut ditujukan bagi warga mereka yang ikut serta dalam armada tersebut. Italia bahkan menawarkan kompromi agar bantuan diturunkan di Siprus dan diserahkan kepada Patriarkat Latin Yerusalem untuk didistribusikan di Gaza.
Usulan ini mendapat dukungan Israel, namun ditolak oleh delegasi Italia atas nama armada. Mereka menegaskan bahwa tujuan utama adalah menembus blokade yang dianggap ilegal dan mengirimkan bantuan langsung kepada penduduk Gaza.
Sebelumnya, armada melaporkan menjadi sasaran drone yang menjatuhkan granat kejut dan bubuk gatal di dekat pulau Gavdos, Yunani. Tidak ada korban luka, tetapi beberapa kapal mengalami kerusakan.
Menyusul insiden itu, Spanyol mengumumkan pengiriman kapal perang pada Kamis. Untuk pertama kalinya, dua negara Eropa secara resmi ikut melindungi armada bantuan menuju Gaza.
Israel menanggapi dengan menegaskan bahwa kapal-kapal tidak akan diizinkan memasuki zona pertempuran aktif maupun melanggar blokade laut. Meski demikian, armada tetap berlayar dengan kecepatan rendah di perairan Yunani dan berencana bergerak ke perairan internasional.
Beberapa peserta memilih turun karena menilai risiko semakin besar, sementara posisi mereka digantikan aktivis lain. Situasi ini semakin menunjukkan meningkatnya ketegangan seiring perjalanan armada menuju Gaza. (Puspem)