Pengalaman Terpapar Radikalisme

  • 13 Mar 2026 11:05 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Dalam dialog interaktif Pro 1 RRI Merauke, Sigit Pramono, S.H, warga binaan Densus 88 AT Polri Satgaswil Papua, membagikan kisah perjalanannya ketika terpengaruh pemikiran radikalisme. Ia menekankan bahwa radikalisme lahir dari cara berpikir yang keliru terhadap ajaran agama.

Sigit menjelaskan bahwa pada masa lalu ia sempat tertarik pada kelompok yang menggunakan simbol-simbol keagamaan sebagai identitas perjuangan. Simbol tersebut membuatnya mengira bahwa gerakan tersebut merupakan representasi ajaran Islam.

Ia menegaskan bahwa agama tidak boleh disalahkan atas tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok tertentu. Menurutnya, yang perlu dikritisi adalah penafsiran atau pemikiran yang melatarbelakanginya.

“Saat itu saya melihat simbol-simbol agama dipakai sehingga saya mengira itu representasi Islam. Kita tidak menyalahkan agama atau ayat, yang kita kritik adalah pemikirannya,” ujar Sigit. Jumat 13 Maret 2026.

Sigit juga menyampaikan bahwa banyak orang yang terpapar radikalisme sebenarnya merupakan korban dari pemahaman yang salah. Mereka terpengaruh oleh narasi ideologis yang dibangun melalui berbagai media dan literatur.

Ia menilai bahwa upaya pencegahan radikalisme harus dilakukan melalui pendekatan pemikiran dan pemahaman yang benar. Edukasi dan literasi keagamaan menjadi langkah penting untuk membentengi masyarakat.

Melalui pengalamannya, Sigit berharap masyarakat lebih kritis dalam menerima informasi. Selain itu tidak mudah terpengaruh oleh ajakan yang memanfaatkan simbol keagamaan.

Rekomendasi Berita