Penutupan Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
- 02 Mar 2026 18:31 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumatra Utara (Sumut) Gunawan Benjamin, menilai penutupan Selat Hormuz oleh Iran di tengah memanasnya ketegangan dengan Israel dan Amerika Serikat telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia dalam beberapa hari terakhir. Mengacu pada data Trading Economics, harga minyak mentah dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik dari sekitar 63 dolar AS per barel pada 26 Februari, menjadi 70,82 dolar AS per barel saat ini.
“Kenaikan harga minyak ini terjadi sangat cepat dalam waktu singkat, dan salah satu pemicunya adalah meningkatnya risiko gangguan distribusi akibat penutupan Selat Hormuz,” ujar Gunawan, Senin 2 Maret 2026.
Kenaikan serupa juga terjadi pada harga minyak mentah jenis Brent, yang melonjak dari kisaran 69 dolar AS per barel menjadi 77 dolar AS per barel. Bahkan, harga minyak Brent mencatat level tertinggi dalam satu tahun terakhir.
Lonjakan harga minyak mentah tersebut dinilai berpotensi mendorong tekanan inflasi global. Terutama jika kenaikan harga bertahan secara konsisten dan mulai membebani keuangan negara-negara terdampak.
Gunawan menilai kenaikan harga minyak mentah dunia tidak semata-mata dipicu oleh kebijakan buka-tutup Selat Hormuz oleh Iran. Selama konflik berlangsung dan distribusi minyak global berada dalam ancaman, harga minyak dinilai berpeluang tetap bertahan di level tinggi.
“Selat Hormuz memiliki peran sangat strategis karena menjadi jalur distribusi sekitar 15 hingga 20 persen kebutuhan minyak dan gas dunia. Selama jalur ini terganggu, harga minyak akan tetap sensitif terhadap eskalasi konflik,” ujarnya.
Ia menyebut dunia pernah mengalami kondisi serupa. Pada tahun 2022, harga minyak mentah dunia sempat melonjak hingga menyentuh 120 dolar AS per barel menyusul operasi militer Rusia ke Ukraina.
Gunawan juga menyoroti pernyataan Presiden Amerika Serikat yang menyebut operasi militer ke Iran diproyeksikan berlangsung selama empat minggu. Jika asumsi tersebut terjadi, maka peluang penutupan Selat Hormuz dalam periode yang sama dinilai cukup terbuka.
“Dengan asumsi konflik berlangsung empat minggu, maka wajar jika harga minyak mentah dunia berpeluang bertahan mahal selama periode tersebut. Dampaknya, harga BBM di banyak negara berpotensi kembali disesuaikan,” ucapnya.
Bagi Indonesia, Gunawan menilai kenaikan harga minyak mentah dunia saat ini sudah cukup untuk mendorong penyesuaian harga BBM non-subsidi di dalam negeri. Selain itu, pergerakan harga minyak global tersebut dipastikan akan menjadi salah satu pertimbangan dalam penetapan harga BBM subsidi ke depan, meskipun keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah.