NTB–ID FOOD Teken MoU Industri Ayam Rp1,2 Triliun di Sumbawa
- 10 Mar 2026 07:25 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menandatangani nota kesepahaman dengan PT Rajawali Nusantara Indonesia (ID FOOD) untuk mengembangkan industri ayam terintegrasi di Kabupaten Sumbawa. Nilai investasi proyek ini mencapai Rp1,2 triliun.
Penandatanganan dilakukan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal bersama Direktur Utama ID FOOD Ghimoyo di kantor PT Rajawali Nusantara Indonesia, kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Senin, 9 Maret 2026. Acara ini turut disaksikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda.
Iqbal mengatakan kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat hilirisasi sektor peternakan sekaligus membangun ekosistem industri perunggasan dari hulu hingga hilir di NTB.
“Bagi NTB ini bukan sekadar proyek investasi. Ini upaya membangun ekosistem peternakan yang lebih adil dan memberdayakan peternak rakyat,” kata Iqbal.
Menurut dia, selama ini dua sektor kunci industri perunggasan bibit ayam atau day old chick (DOC) serta pakan masih didominasi pelaku usaha besar. Kondisi tersebut membuat banyak peternak rakyat hanya bertahan dalam pola kemitraan tanpa ruang berkembang lebih besar.
Dengan pembangunan industri ayam terintegrasi, pemerintah daerah berharap tercipta struktur usaha yang lebih sehat dan memberi peluang bagi peternak lokal untuk berkembang secara mandiri.
Iqbal juga menyoroti kebutuhan telur dan daging ayam di NTB yang masih defisit sehingga sebagian pasokan masih didatangkan dari luar daerah. Permintaan diperkirakan terus meningkat seiring pelaksanaan program nasional Makan Bergizi Gratis.
“Saat ini jumlah satuan layanan program itu di NTB hampir seribu. Artinya kebutuhan pasokan pangan, termasuk produk peternakan, akan terus meningkat,” ujarnya.
Karena itu pemerintah daerah, kata Iqbal, akan mempercepat dukungan infrastruktur dan konektivitas logistik agar proyek tersebut bisa segera berjalan.
MoU ini menjadi tindak lanjut dari groundbreaking proyek hilirisasi ayam terintegrasi yang sebelumnya dimulai di Desa Serading, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa.
Direktur Utama ID FOOD Ghimoyo mengatakan sebagai holding BUMN pangan, perusahaannya memiliki jaringan distribusi nasional yang dapat mendukung pengembangan industri peternakan. Saat ini ID FOOD memiliki 74 cabang distribusi, 24 fasilitas cold storage, 1.051 dry storage, serta lebih dari 900 armada logistik.
“Melalui kerja sama ini kami membangun ekosistem peternakan terintegrasi di NTB,” kata Ghimoyo.
Ia menjelaskan, pada tahap hulu perusahaan akan menyediakan bibit unggul, pakan, obat, dan vaksin. Pada tahap produksi, peternak rakyat akan dilibatkan melalui skema contract farming dan perjanjian offtake agar hasil produksi memiliki kepastian pasar.
Peternak juga akan mendapatkan pelatihan, asistensi teknis, serta akses pembiayaan melalui berbagai skema, termasuk kredit investasi, kredit modal kerja, hingga Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Di sisi hilir, ID FOOD akan membangun fasilitas pengolahan seperti rumah potong unggas, pengolahan karkas, hingga pengemasan produk yang dipasarkan melalui jaringan distribusi nasional.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda menyebut proyek ayam terintegrasi merupakan program strategis nasional yang mendapat perhatian pemerintah pusat.
“Yang kita bangun bukan sekadar fasilitas produksi, tetapi ekosistem industri ayam yang melibatkan peternak rakyat sebagai aktor utama,” ujarnya.
NTB ditetapkan sebagai salah satu klaster utama pengembangan proyek ayam terintegrasi nasional karena dinilai memiliki potensi wilayah yang besar serta dukungan kuat dari pemerintah daerah.
Sebagai tindak lanjut MoU tersebut, ID FOOD dijadwalkan kembali melakukan survei lapangan di Kabupaten Sumbawa untuk memastikan kesiapan teknis dan kelayakan lokasi proyek.
Pemerintah berharap kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, dan peternak rakyat ini dapat menjadi motor baru penggerak ekonomi daerah sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional dari NTB.