Presiden Prabowo Tegaskan Kemerdekaan Dijaga melalui Persatuan Nasional
- 08 Feb 2026 10:38 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia hanya dapat dipertahankan dan dimaknai secara utuh apabila seluruh elemen bangsa menjaga persatuan nasional.
Perbedaan pandangan, menurut Presiden, tidak boleh menjadi sumber perpecahan, melainkan harus dikelola melalui musyawarah dan kebersamaan.
Hal tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam sambutannya di hadapan warga Nahdlatul Ulama (NU), pada momen Mujahadah Kubro satu abad NU di Stadion Gajayana Malang, Minggu (8/2/2026).
Ia menekankan bahwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia membuktikan, persatuan menjadi kunci utama dalam mempertahankan kemerdekaan.
“Tidak ada bangsa yang kuat dan maju jika para pemimpinnya tidak rukun. Kita boleh berbeda, boleh bersaing, bahkan berdebat, tetapi pada akhirnya semua pemimpin dan seluruh elemen bangsa harus bersatu,” ujar Presiden Prabowo.
Presiden mengingatkan bahwa meskipun Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan di Jakarta pada 17 Agustus 1945, ujian sesungguhnya atas kemerdekaan Indonesia terjadi ketika bangsa ini bersatu menghadapi ancaman penjajahan kembali.
Ia menilai, rakyat Jawa Timur, khususnya Surabaya, telah menunjukkan teladan persatuan nasional dengan dipimpin para kiai dan ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari kekuatan besar dunia.
Dalam konteks kekinian, Presiden Prabowo menekankan bahwa kemerdekaan tidak hanya dijaga melalui kekuatan fisik, tetapi juga melalui kedewasaan sikap para pemimpin dan masyarakat.
Ia mengingatkan agar tidak ada pemimpin yang memelihara dendam, kebencian, maupun rasa dengki.
“Sejarah manusia mengajarkan, tidak mungkin ada kemakmuran tanpa perdamaian, dan tidak mungkin ada perdamaian tanpa persatuan. Semua pemimpin, baik politik, ekonomi, maupun intelektual, harus mengabdi sepenuhnya untuk kepentingan rakyat Indonesia,” tegasnya.
Presiden juga mengapresiasi peran Nahdlatul Ulama yang dinilainya konsisten menjaga persatuan dan kerukunan bangsa.
Ia menyebut NU sebagai contoh organisasi yang mengedepankan persaudaraan, toleransi, dan musyawarah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menutup sambutannya, Presiden Prabowo kembali mengingatkan nilai luhur bangsa Indonesia, mikul dhuwur mendem jero, sebagai pedoman dalam menyikapi perbedaan.
“Berbeda tidak masalah. Setelah berbeda, kita cari persatuan, kita cari kesamaan, dan kita bermusyawarah untuk mufakat. Inilah kepribadian bangsa Indonesia dan kunci menjaga kemerdekaan kita,” pungkasnya.