Menikmati “Slow Living” di Pulau Waiheke

  • 10 Jul 2025 13:32 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang : Pulau Waiheke di Selandia Baru menjadi tempat tinggal impian bagi pasangan muda Phoebe Merrick dan Reuben Sandoy. Mereka memilih meninggalkan kehidupan sibuk di kota besar demi menjalani gaya hidup santai, seimbang, dan menyatu dengan alam, meskipun biaya hidup di pulau tersebut tergolong tinggi.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Waiheke pada Juni 2023, Phoebe Merrick tak pernah menyangka bahwa dirinya akan menetap di sana. Ia datang dari Virginia, Amerika Serikat, untuk mengikuti magang musim panas di sebuah kebun anggur di pulau tersebut. “Waktu naik feri dari Auckland, aku langsung berpikir, ‘Ini nggak nyata, pemandangannya sangat cantik,’” ungkapnya dalam wawancara dengan CNBC Make It.

Dua tahun berlalu, Merrick masih tinggal di Waiheke, dan kini bersiap pindah ke rumah baru bersama pasangannya, Reuben Sandoy, seorang penduduk asli Waiheke. Mereka bertemu saat program magang berlangsung, dan tak lama setelah itu, Sandoy bahkan sempat berkunjung ke Amerika untuk bertemu keluarga Merrick. Hubungan mereka pun semakin serius dan berlanjut ke rencana tinggal bersama secara permanen.

Pulau Waiheke adalah pulau terbesar kedua di Teluk Hauraki dan dapat ditempuh sekitar 40 menit dengan feri dari Auckland. Terkenal dengan pantai-pantainya yang indah dan perkebunan anggur kelas dunia, pulau ini menjadi destinasi favorit bagi wisatawan maupun warga lokal yang ingin menikmati suasana yang tenang.

Saat musim dingin, populasi pulau ini sekitar 9.000 orang. Namun di musim panas, jumlahnya bisa melonjak hingga lebih dari 45.000 jiwa. Pulau ini bahkan dijuluki sebagai “Hamptons-nya Selandia Baru,” tempat para selebritas dan kalangan atas berlibur.

Meskipun harga-harga di sana cukup tinggi, Merrick dan Sandoy merasa semuanya sepadan. Mereka tertarik dengan keindahan alam dan ritme hidup yang lebih lambat. “Semua serba dekat dan nggak ada macet,” kata Sandoy. Ia juga merasa lebih leluasa menjalankan bisnis perbaikannya karena minim kompetitor di pulau tersebut.

Merrick bekerja jarak jauh sebagai manajer media sosial lepas, sementara Sandoy menjalankan usaha jasa pipa. Pendapatan mereka secara total sekitar 132.000 dolar AS per tahun, cukup untuk membiayai kehidupan di pulau eksklusif itu. Selama beberapa tahun terakhir, mereka tinggal di rumah ibu Sandoy tanpa membayar sewa, sehingga bisa mengumpulkan tabungan untuk uang muka dan renovasi rumah baru.

Kategori pengeluaran terbesar mereka setelah menabung adalah makanan. Harga bahan makanan di Waiheke tergolong mahal karena banyak yang harus diimpor. Merrick senang memasak dan sering mengadakan pesta makan malam, sementara Sandoy menikmati makanan premium seperti steak. “Kalau makan di luar, bukan sekadar pizza atau burger. Bisa-bisa menunya ravioli truffle atau lobster dengan kaviar,” ungkap Merrick.

Setelah menabung bertahun-tahun, Sandoy akhirnya membeli rumah seharga lebih dari 1 juta dolar Selandia Baru, setara hampir 621.000 dolar AS. Rumah tersebut adalah rumah lama yang butuh renovasi total, namun mereka siap untuk memperbaikinya bersama.“Kami senang banget bisa merenovasi rumah ini bareng-bareng. Memang butuh perjuangan, tapi ini langkah besar buat kami sebagai pasangan,” kata Merrick dengan penuh semangat.

Sandoy bekerja hingga 50 jam seminggu, sedangkan Merrick menghabiskan 40 jam per minggu untuk menangani empat klien lokal yang ditemukannya lewat forum Facebook. Meskipun pekerjaan mereka menuntut, keduanya merasa jauh lebih bahagia sejak tinggal di Waiheke. “Hidup di sini ngajarin aku pentingnya istirahat dan waktu bersama,” ujar Merrick.

Ia merasa bahwa gaya kerja di Selandia Baru lebih manusiawi. Dengan jatah cuti tahunan minimal 4 minggu dan banyak hari libur nasional, ia punya lebih banyak waktu untuk bersosialisasi. “Di Amerika, teman-temanku kerja terus dan jarang libur. Di sini, semua orang lebih rileks dan bisa habiskan waktu bareng-bareng. Aku merasa jauh lebih bahagia,” tambahnya.

Kisah Merrick dan Sandoy menunjukkan bahwa hidup di tempat terpencil seperti Pulau Waiheke memang membutuhkan pengorbanan finansial. Namun, bagi mereka, nilai yang didapat dari gaya hidup yang tenang, seimbang, dan penuh makna jauh lebih berharga dari sekadar angka di rekening. (Adelia Devi)

Rekomendasi Berita