Festival Songkran, Perang Air dan Tradisi Budaya
- 10 Jul 2025 13:24 WIB
- Malang
KBRN, Malang : Festival Songkran di Thailand bukan sekadar perang air massal yang seru dan penuh warna. Di balik keseruannya, Songkran menyimpan makna budaya mendalam, menjadi momen sakral untuk penyucian diri, menghormati leluhur, dan merayakan awal baru dalam kalender tradisional Thailand.
"Kenapa semua orang bawa senapan air?"
Pertanyaan ini dilontarkan oleh karakter Kate (Leslie Bibb) dalam serial "The White Lotus" musim ketiga. Dalam adegan itu, ia dan dua temannya terkejut saat melihat kerumunan ramai dengan senapan air berwarna-warni di sebuah kota dekat resor mereka.
"Itu Songkran, mereka mengadakan perang air di jalanan hanya untuk bersenang-senang," jawab Valentin, pegawai resor, dengan santai.
Seketika itu pula, perempuan-perempuan itu jadi sasaran anak-anak kecil yang menyemprotkan air, meskipun mereka memohon untuk tidak dibasahi karena hendak pergi malam itu. Seperti yang diketahui banyak orang lokal: semakin Anda meminta ampun, justru makin besar peluang Anda jadi sasaran.
Setiap bulan April, masyarakat Thailand dari berbagai usia turun ke jalan membawa ember, senapan air, atau selang, dan saling menyiramkan air dari pagi hingga senja. Namun Songkran lebih dari sekadar keseruan basah-basahan.
Secara etimologis, kata "Songkran" berasal dari bahasa Sanskerta yang merujuk pada perpindahan matahari dalam zodiak. Festival ini menandai Tahun Baru tradisional Thailand, biasanya dirayakan dari 13 hingga 15 April. Di banyak daerah, perayaannya bahkan bisa diperpanjang.
Festival ini berlangsung saat musim panas mencapai puncaknya, menjadi waktu bagi warga untuk pulang kampung, beristirahat dari pekerjaan, dan berkumpul bersama keluarga.
Pada 2023, Songkran secara resmi masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Dalam deskripsinya, UNESCO menyebut bahwa "menyiramkan air adalah tindakan simbolik untuk penyucian, penghormatan, dan membawa keberuntungan."
Selain menyiram air ke sesama, orang Thailand juga melakukan tradisi menyiramkan air ke patung Buddha, memainkan musik dan permainan rakyat, serta menyantap makanan khas.
Perang air raksasa yang menjadi ikon modern Songkran kini digelar di banyak kota besar seperti Bangkok (di Khao San Road dan Silom Road), serta Chiang Mai di kawasan Kota Tua. Meski demikian, jejak perang air ini telah tercatat sejak puluhan tahun lalu.
Seorang dosen sejarah di Universitas Thammasat, Pipad Krajaejun, mengatakan kepada CNN pada 2024 bahwa sulit menentukan kapan tepatnya tradisi menyiram air menjadi bagian utama Songkran. Namun, ia menyebut bahwa foto-foto lama dari Chiang Mai tahun 1964 menunjukkan banyak warga bermain air di Sungai Ping.
Dulu, semua orang bermain air di desa, semua saling mengenal dan suasananya penuh kekeluargaan," jelas Pipad.
Kini, perayaan melibatkan ribuan orang dengan senapan air bertekanan tinggi.
Perayaan Songkran digelar di hampir semua wilayah Thailand. Beberapa daerah membatasi perang air hanya satu hari, jadi penting bagi wisatawan untuk memeriksa jadwal resmi. Tahun ini, Otoritas Pariwisata Thailand merilis daftar acara resmi dalam rangka Maha Songkran World Water Festival 2025.
Meski tiap daerah memiliki versi perayaannya masing-masing, dua tradisi utama masih banyak dijalankan. Pada 13 April, masyarakat mengunjungi kuil untuk menuangkan air ke patung Buddha, atau dikenal sebagai Song Nam Phra.
Di Thailand utara (Lanna), air dituangkan melalui patung naga yang berfungsi sebagai pancuran, bukan langsung ke patung. Tradisi kedua, Rot Nam Dam Hua, dilakukan pada 14 April, di mana generasi muda menuangkan air harum ke tangan orang tua atau sesepuh sebagai bentuk penghormatan, dan mereka akan memberikan doa serta restu.
Kini, patung Buddha juga dapat ditemukan di ruang publik seperti pusat perbelanjaan, lengkap dengan mangkuk kecil berisi air wangi untuk digunakan pengunjung.
Bagi wisatawan yang ingin ikut serta, tidak sulit menemukan senapan air. Pedagang kaki lima menjualnya di dekat lokasi-lokasi pertempuran air. Namun, tetap ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Jumlah kecelakaan lalu lintas saat Songkran cukup tinggi, sebagian besar disebabkan oleh mengemudi dalam keadaan mabuk. Juga terdapat laporan mengenai pelecehan seksual selama perayaan. Wisatawan disarankan menyimpan barang berharga di kantong tahan air, termasuk ponsel.
Menghindari iritasi mata juga penting, air yang digunakan tidak selalu bersih. Mengenakan kacamata renang atau pelindung bisa membantu. Karena suhu bisa mencapai 40°C, gunakan tabir surya, topi, dan banyak minum air putih. Jika masuk ke ruangan ber-AC dalam kondisi basah, bisa sangat menggigil, jadi bawa handuk dan pakaian ganti.
Songkran juga dikenal dengan busana tropis meriah, terutama kemeja Hawaii bermotif bunga cerah. Inilah waktunya Anda tampil mencolok!
Makanan adalah bagian tak terpisahkan dari Songkran. Thailand yang kaya akan variasi kuliner daerah menghadirkan menu khas musim panas.
Salah satu hidangan ikonik adalah khao chae, atau "nasi rendam air." Menu ini terdiri dari nasi yang disajikan dalam air melati dingin dan berbagai lauk pendamping seperti bola udang fermentasi, bawang goreng, cabai isi, daging suwir, dan sayuran segar. Di Bangkok, hotel-hotel seperti Mandarin Oriental menyajikan versi mewahnya.
Tak ketinggalan, mango sticky rice alias ketan mangga dengan saus santan manis. Hidangan yang bisa dinikmati sebagai kudapan atau pencuci mulut ini sangat populer saat musim mangga tiba, yaitu Maret hingga Mei. Di Bangkok, K. Panich adalah toko legendaris yang sudah menyajikan hidangan ini hampir 100 tahun.
Bagi jurnalis CNN Travel Karla Cripps yang telah tinggal lebih dari 20 tahun di Thailand, unsur tradisional Songkran tetap menjadi favorit. Namun bersama anak remajanya, ia juga telah menikmati berbagai pertempuran air khas festival ini selama bertahun-tahun.
Songkran bukan hanya simbol perayaan, tetapi juga refleksi atas harmoni antara tradisi, keluarga, dan kesenangan di tengah hiruk pikuk kehidupan modern. (Adelia Devi)