Serangan AS ke Iran, Analis Timur Tengah: Harga Minyak Berpotensi Naik
- 02 Mar 2026 09:52 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Pada Sabtu, 28 Februari 2026, AS dan Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran ke kota-kota utama Iran, termasuk Teheran, Isfahan, dan Tabriz. Serangan ini menargetkan instalasi militer, fasilitas nuklir, dan gedung pemerintahan guna menggagalkan program nuklir Iran setelah negosiasi di Jenewa berakhir buntu.
Analis Timur Tengah, Supratman mengatakan untuk dampak yang dihasilkan bisa mempengaruhi harga minyak global. Terlebih lagi saat ini Iran sudah menutup selat Hormuz yang mana itu pusat lalu lintas.
Selat Hormuz adalah jalur utama ekspor minyak dari Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar. Kata Dosen FIB Unhas, jika jalur ini ditutup, harga minyak global bisa melonjak tajam dalam hitungan jam.
"Dalam skenario krisis besar, harga minyak berpotensi naik 30–70% atau bahkan lebih, tergantung durasi penutupan. Pasar akan bereaksi secara spekulatif sebelum gangguan fisik benar-benar terjadi," ujar Koordinator Iranian Corner Unhas, Senin, 2 Maret 2026.
Secara historis, tambah Supratman menyebutkan jika setiap ketegangan di kawasan Teluk Persia langsung memicu kenaikan harga Minyak Global, termasuk Indonesia. "Bila BBM naik, pasti harga lainya juga ikut, tidak hanya masalah industri besar tetapi juga kepada persoalan harga bahan pokok atau sembako," jelasnya.