Dinamika dan Isu Strategis Lansia pada Kelompok Marjinal
- 09 Mar 2026 19:29 WIB
- Jambi
RRI, CO,ID, Jambi - Lansia merupakan kelompok masyarakat yang terus bertambah jumlahnya seiring meningkatnya harapan hidup. Namun, bagi lansia yang berada dalam kelompok marjinal, terutama perempuan lansia, lansia miskin, atau lansia yang hidup sendiri, berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan kesehatan masih menjadi tantangan besar.
Jubaidah, Presidium Wilayah Koalisi Perempuan Indonesia Provinsi Jambi / Pendamping Sekolah Lansia Kelurahan Sungai Putri menjelaskan, dinamika kehidupan lansia di tingkat komunitas menunjukkan bahwa banyak lansia masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, perlindungan sosial, serta kesempatan untuk tetap berdaya dalam masyarakat. Kondisi ini sering diperparah oleh faktor kemiskinan, rendahnya pendidikan, dan minimnya dukungan keluarga.
Salah satu isu strategis yang menonjol adalah kerentanan ekonomi. Banyak lansia dari kelompok marjinal tidak memiliki jaminan hari tua atau penghasilan tetap. Akibatnya, mereka tetap harus bekerja di usia lanjut dengan kondisi kesehatan yang semakin menurun. Di sisi lain, akses terhadap layanan kesehatan yang ramah lansia juga masih belum merata, terutama bagi lansia yang tinggal di wilayah dengan fasilitas terbatas.
Sebagai upaya menjawab tantangan tersebut, berbagai inisiatif berbasis komunitas mulai dikembangkan, salah satunya melalui program Sekolah Lansia di Kelurahan Sungai Putri. Program ini menjadi ruang belajar dan pemberdayaan bagi para lansia untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan, hak-hak lansia, serta memperkuat solidaritas sosial di antara mereka.
Jubaidah menekankan bahwa pendekatan berbasis komunitas sangat penting untuk memastikan lansia tetap aktif, mandiri, dan bermartabat. Dukungan dari pemerintah, organisasi masyarakat sipil, serta keluarga menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang ramah lansia, khususnya bagi mereka yang berada dalam kelompok marjinal.
Dengan perhatian yang lebih serius terhadap isu lansia, diharapkan kebijakan dan program pembangunan ke depan dapat lebih inklusif dan sensitif terhadap kebutuhan lansia. Lansia bukan sekadar kelompok penerima bantuan, tetapi juga sumber pengalaman dan kebijaksanaan yang memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat.