Jelang Mudik Lebaran, Orang Tua Diimbau Lengkapi Imunisasi Anak

  • 12 Mar 2026 15:40 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk memastikan anak-anak yang akan diajak mudik Lebaran telah mendapatkan imunisasi lengkap, terutama vaksin campak. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat daya tahan tubuh anak terhadap berbagai virus dan bakteri yang berpotensi menular selama perjalanan maupun saat berada di kampung halaman.

Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta Budi Setiawan mengatakan orang tua perlu memastikan status imunisasi anak sebelum melakukan perjalanan mudik. Ia menilai perlindungan melalui vaksinasi menjadi langkah awal untuk mencegah risiko penularan penyakit menular pada anak.

“Kita harus yakin anak-anak yang dibawa mudik sudah divaksin, atau saat di kampung halaman lakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) lebih intens,” kata Budi, di Jakarta, Kamis, 12 Maret 2026.

Budi mengingatkan bahwa imunisasi terbukti menjadi salah satu intervensi kesehatan paling efektif. Merujuk data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), vaksinasi mampu mencegah sekitar 2 hingga 3 juta kematian setiap tahun akibat penyakit menular seperti difteri, tetanus, pertusis, influenza, hingga campak.

Selain memastikan vaksinasi, orang tua juga diminta lebih peka terhadap gejala awal campak pada anak. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain demam yang diikuti ruam merah pada tubuh, mata memerah, batuk, pilek, hingga rasa gatal yang kadang disertai diare.

Jika gejala tersebut muncul, Budi menyarankan orang tua segera membawa anak ke puskesmas atau fasilitas layanan kesehatan terdekat. Ia juga mengimbau agar perjalanan mudik ditunda sementara untuk menghindari risiko penularan kepada orang lain.

“Tidak masuk sekolah dulu, tidak main ke tetangga dulu sebelum didiagnosis dokter. Karena, dengan upaya mencegah kontak dengan orang lain sudah masuk pencegahan, bukan melulu tentang imunisasi,” ujarnya.

Kewaspadaan terhadap campak dinilai penting karena sejumlah daerah di Indonesia masih menghadapi kasus dengan status Kejadian Luar Biasa (KLB). Pada 2026, tercatat 10 kabupaten/kota di tujuh provinsi mengalami KLB campak, di antaranya Solok dan Pariaman di Sumatera Barat, Cilacap dan Klaten di Jawa Tengah, Sleman dan Gunung Kidul di Yogyakarta, Jember di Jawa Timur, Garut di Jawa Barat, Sinjai di Sulawesi Selatan, serta Tojo Una-una di Sulawesi Tengah.

Untuk memperkuat perlindungan anak, Pemprov DKI Jakarta saat ini juga menggelar program Imunisasi Kejar Serentak (IKS) campak. Program tersebut bertujuan menjangkau anak-anak yang belum menerima imunisasi lengkap sekaligus menekan potensi penyebaran penyakit.

Pelaksanaan IKS pada Maret 2026 difokuskan kepada anak usia 9 hingga 59 bulan yang belum memperoleh imunisasi MR1. Melalui program tersebut, pemerintah berharap cakupan imunisasi meningkat sehingga kekebalan kelompok dapat terbentuk lebih kuat.

Sementara itu, berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, sejak awal 2026 tercatat 1.236 kasus terduga campak di ibu kota. Jakarta Barat menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi mencapai 398 kasus, disusul Jakarta Pusat 276 kasus dan Jakarta Selatan 226 kasus.

Kasus lainnya tercatat di Jakarta Utara sebanyak 179 kasus, Jakarta Timur 155 kasus, serta dua kasus di Kepulauan Seribu. Adapun kecamatan dengan jumlah kasus terbanyak antara lain Tanah Abang, Tambora, Taman Sari, Cengkareng, dan Pesanggrahan.

Rekomendasi Berita