DEN: Elektrifikasi Rumah Tangga dan Transportasi Kunci Ketahanan Energi Nasional
- 12 Mar 2026 15:42 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Percepatan penggunaan kompor listrik dan kendaraan listrik dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang kerap memengaruhi pasokan dan harga energi. Upaya tersebut juga dinilai dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar fosil.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Kholid Syeirazi mengatakan, ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) masih menjadi salah satu titik lemah dalam sistem energi nasional. Ketika situasi global stabil, dampaknya mungkin tidak terlalu terasa, namun kondisi tersebut dapat berubah drastis saat terjadi konflik atau ketegangan geopolitik.
“Selama ini kita masih banyak mengimpor BBM dan LPG. Dalam situasi pasar normal mungkin tidak terlalu terasa, tetapi ketika terjadi krisis geopolitik, harga bisa melonjak dan pasokan tersendat. Karena itu kita perlu memperkuat alternatif energi yang bersumber dari dalam negeri, salah satunya kompor listrik dan kendaraan listrik,” kata Kholid, di Jakarta, Kamis, 12 Maret 2026.
Menurutnya, upaya memperluas penggunaan listrik dalam berbagai sektor merupakan bagian dari arah kebijakan energi nasional yang sedang didorong pemerintah. Elektrifikasi dinilai menjadi jalur utama dalam proses transisi energi yang kini tengah berlangsung di banyak negara.
Ia menjelaskan bahwa sektor transportasi secara bertahap akan bergeser dari penggunaan BBM menuju kendaraan berbasis listrik. Sementara di sektor rumah tangga, kebutuhan energi untuk memasak juga mulai diarahkan beralih dari LPG menuju kompor listrik.
“Transisi energi pada akhirnya mengarah pada elektrifikasi. Kendaraan bermotor secara bertahap akan beralih dari BBM ke listrik, sementara kebutuhan energi rumah tangga seperti memasak juga didorong menggunakan listrik melalui kompor listrik,” ujarnya.
Selain menekan ketergantungan impor energi, langkah elektrifikasi juga dinilai membuka peluang lebih besar bagi pemanfaatan energi baru terbarukan di dalam negeri. Indonesia memiliki potensi besar dari berbagai sumber energi bersih seperti tenaga surya, angin, hingga bioenergi.
Kholid menilai potensi tersebut dapat menjadi fondasi bagi pembentukan bauran energi nasional yang lebih beragam dan berkelanjutan. Dengan memanfaatkan sumber energi domestik, Indonesia tidak hanya memperkuat kemandirian energi, tetapi juga mendukung target pengurangan emisi karbon.
“Kita punya potensi energi terbarukan yang besar seperti surya, angin, biofuel, dan sumber energi nabati lainnya. Itu yang ke depan menjadi bagian dari bauran energi sehingga target pengurangan emisi dan kemandirian energi bisa berjalan bersamaan,” jelasnya.
Dari sisi sistem kelistrikan, ia menilai Indonesia masih memiliki ruang yang cukup untuk menampung peningkatan permintaan listrik akibat elektrifikasi. Hal ini terlihat dari tingkat konsumsi listrik nasional yang masih relatif rendah dibandingkan negara maju.
Saat ini konsumsi listrik Indonesia diperkirakan sekitar 1.400 kilowatt hour (kWh) per kapita per tahun. Angka tersebut masih jauh di bawah konsumsi listrik negara maju yang bisa melampaui 10.000 kWh per kapita setiap tahun.
Kholid menilai peningkatan konsumsi listrik justru dapat menjadi indikator berkembangnya aktivitas ekonomi dan pemanfaatan energi yang lebih efisien. Dengan dukungan sistem kelistrikan yang memadai, adopsi kompor listrik dan kendaraan listrik diyakini dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong transformasi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.