World Radio Day 2026, Bahas Transformasi Radio di Era AI

  • 12 Feb 2026 21:14 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Radio Web Summit 2026, dengan tema “Redefining Radio in the AI Ecosystem and YouTube Era” yang diikuti oleh para penyiar, pembuat kebijakan dan akademisi, dari kawasan Asia-Pasifik kembali menegaskan, bahwa radio kini berevolusi dari jaringan fisik menuju kebiasaan konsumsi konten di ekosistem digital. Kegiatan yang digelar secara daring oleh AIBD ini diikuti sekitar 150 insan radio dari berbagai negara di Kawasan Asia Pasifik pada Kamis, 12 Februari 2026.

Forum diskusi yang digelar secara daring oleh AIBD tersebut menyoroti pergeseran paradigma dari ketergantungan pada frekuensi (RF) menuju penguatan content IP di platform seperti YouTube dan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI). Pada kesempatan ini CEO AMT, Steve Ahern, menekankan bahwa penyiar harus berhenti mendefinisikan diri melalui frekuensi dan perangkat fisik, serta mulai membangun identitas berbasis konten yang relevan dalam dunia multiplatform.

Pengalaman KBS Korea Selatan turut memperkaya diskusi. Produser radio KBS, Kang So Yeon, menjelaskan bahwa kebiasaan mendengarkan kini berpindah ke platform visual seperti YouTube. “Radio tidak hilang, melainkan bertransformasi mengikuti pola multitasking audiens digital,” kata Kang So Yeon.

Diskusi mengenai dampak AI dalam industri radio juga menghadirkan Shri. V Sivakumar, Former Deputy Director All India Radio (Akashvani). Ia mengulas bagaimana AI menjadi pedang bermata dua: meningkatkan efisiensi produksi dan analisis perilaku pendengar, namun sekaligus menuntut redefinisi peran profesional radio di tengah otomatisasi sistem.

Dari Nepal, Mr. Siromani Dhungana, Director of ACORAB Nepal, membagikan perspektif tentang solidaritas publik di era platform digital. Ia menekankan bahwa semangat radio sebagai ruang bersama masyarakat tetap hidup, bahkan ketika medium distribusinya berubah.

“Platform seperti YouTube dapat menjadi “alun-alun digital” tempat komunitas bersuara dan membangun kebiasaan kolektif baru,” ujarnya.

Sementara itu, dalam sesi bertajuk The Core Essence: Radio as a Lifeline in Natural Disaster Situations, Yanti Rahminur dari RRI Indonesia memaparkan tantangan komunikasi di negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau, 130 gunung api aktif dan lebih dari 700 bahasa daerah.

“Di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), konektivitas digital belum merata. Saat bencana melanda dan jaringan internet lumpuh, radio berbasis baterai tetap menjadi sumber informasi paling andal. Ketimpangan akses digital di kawasan Asia-Pasifik menjadikan radio tetap relevan sebagai penyambung hidup,” ungkapnya.

Praktisi penyiaran radio dan digital itu juga menyampaikan, bahwa di RRI memanfaatkan AI bukan untuk menggantikan siaran konvensional, tetapi justru untuk memperkuatnya. Melalui pemetaan audiens cerdas, klasterisasi bahasa lokal, dan prediksi wilayah rawan bencana, teknologi digunakan untuk meningkatkan efektivitas penyiaran darurat.

“Di RRI Program siaran “Kentongan” menjadi contoh kolaborasi berbasis mitigasi yang mengedepankan bahasa lokal dan kearifan setempat dalam komunikasi kebencanaan,” jelasnya.

Menutup forum, para pembicara sepakat bahwa radio tetap merupakan infrastruktur kritis nasional, setara dengan jalur evakuasi dan rumah sakit. Dalam era AI dan media sosial, peran dibagi secara tegas: AI mendukung tahap persiapan dan analisis, sementara radio menjalankan fungsi penyelamatan secara langsung di lapangan.

Transformasi dari gelombang udara menuju kebiasaan konsumsi digital tidak menghapus jati diri radio. Justru di titik nol bencana, ketika semua sistem canggih gagal, suara radio kembali menjadi penuntun, pemersatu dan penyelamat.

Rekomendasi Berita