Ekspor Minyak Timteng Anjlok akibat Penutupan Hormuz

  • 17 Mar 2026 16:06 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ekspor Minyak Timur Tengah Anjlok hingga 60 Persen Akibat Konflik AS-Iran
  • Penutupan Selat Hormuz Picu Gangguan Pasokan Energi Terbesar di Dunia
  • Harga Minyak Mentah Global Melonjak ke Level Tertinggi dalam Empat Tahun

RRI.CO.ID, Teheran — Ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah dilaporkan mengalami penurunan tajam. Penurunan tersebut dilaporkan hingga setidaknya 60 persen menjelang 15 Maret dibandingkan periode Februari, dilansir dari Reuters.

Penurunan terjadi di wilayah Teluk Persia, pusat produsen minyak utama dunia, termasuk Arab Saudi sebagai salah satu eksportir terbesar. Penurunan tersebut dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang menyebabkan gangguan pada aktivitas produksi dan distribusi minyak.

Sejumlah ladang minyak terpaksa menghentikan operasinya, sementara penutupan efektif Selat Hormuz memperburuk situasi. Jalur strategis ini biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.

Gangguan di kawasan tersebut berdampak besar terhadap pasar energi dunia. Akibat kondisi ini, banyak pengiriman minyak dibatalkan, menciptakan gangguan pasokan yang disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah.

Dampaknya, harga minyak mentah melonjak hingga mencapai level tertinggi dalam empat tahun. Sementara itu, beberapa jenis bahan bakar bahkan mencatat rekor harga tertinggi.

Data Kpler menunjukkan ekspor minyak, kondensat, dan bahan bakar olahan dari delapan negara di kawasan tersebut turun. Menurut data, ekspor tersebut turun menjadi sekitar 9,71 juta barel per hari.

Sebelumnya, angka tersebut mencapai lebih dari 25 juta barel per hari pada Februari, dengan penurunan setara dengan sekitar 61 persen. Negara-negara yang termasuk dalam perhitungan tersebut antara lain Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, Oman, Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab.

Sementara itu, data dari Vortexa mencatat penurunan yang lebih dalam, dengan ekspor hanya mencapai sekitar 7,5 juta barel per hari. Angka tersebut menunjukkan penurunan sekitar 71 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Sebelum konflik terjadi, delapan negara tersebut menyumbang sekitar 36 persen dari total ekspor minyak global melalui jalur laut. Namun demikian, angka ekspor diperkirakan bisa lebih rendah, mengingat sebagian volume minyak disimpan di kapal dan belum dikirim keluar.

Rekomendasi Berita