Perang Iran Picu Krisis Pangan Global? Ini Penjelasannya

  • 13 Mar 2026 13:32 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Teheran — Konflik antara Iran dan negara-negara Barat memicu kekhawatiran akan krisis pangan global baru. Perang tersebut meningkatkan harga energi dan pupuk yang menjadi komponen penting dalam produksi pangan.

Para petani di berbagai negara mulai bersiap menghadapi kemungkinan kekurangan sumber daya yang dapat menurunkan hasil panen. Dunia saat ini fokus pada kapal tanker minyak dan LNG yang tidak lagi melintas di Selat Hormuz akibat meningkatnya risiko keamanan.

Jalur laut sempit antara Iran dan Oman itu biasanya mengangkut sekitar seperlima ekspor minyak mentah dan LNG dunia. Namun selain energi, jalur tersebut juga sangat penting bagi perdagangan pupuk global, dilansir dari Deutsche Welle, Jumat, 13 Maret 2026.

Kawasan Teluk menyumbang sekitar 20 persen perdagangan global pupuk utama seperti amonia, fosfat, dan sulfur. Hampir setengah perdagangan urea, pupuk nitrogen dalam pertanian dunia berasal dari kawasan Teluk.

Perusahaan energi negara QatarEnergy sempat menghentikan produksi setelah serangan Iran terhadap fasilitas di Ras Laffan. Ras Laffan merupakan pusat LNG dan pupuk terbesar di dunia, sehingga ratusan ribu ton bahan baku pupuk tertunda distribusinya.

Dampak perang Iran berpotensi menjadi ancaman besar ketiga bagi ketahanan pangan global dalam enam tahun terakhir. Sejak konflik terbaru dimulai, harga pupuk meningkat antara 10 persen hingga 30 persen.

Menurut Badan Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), sekitar 1,33 juta ton pupuk melewati Selat Hormuz setiap bulan. Penutupan jalur tersebut selama 30 hari saja bisa memicu kekurangan pupuk.

Tanaman seperti jagung, gandum, dan padi yang membutuhkan nitrogen tinggi berisiko mengalami penurunan hasil panen. Peneliti Lembaga Penelitian Kebijakan Pangan Internasional (IFPRI), Joseph Glauber, mengatakan harga pupuk tinggi dapat mengubah pilihan tanaman para petani.

Glauber mengatakan bahwa para petani mungkin beralih ke tanaman yang membutuhkan pupuk lebih sedikit. Di negara miskin, sebagian petani bahkan mungkin mengurangi penggunaan pupuk secara keseluruhan.

Gangguan di Selat Hormuz juga memicu lonjakan harga energi global, yang menyumbang hampir setengah dari total biaya produksi pangan. Harga bahan bakar yang lebih tinggi memengaruhi biaya mesin pertanian, transportasi hasil panen, hingga proses pengolahan makanan.

Kenaikan biaya tersebut akhirnya berdampak pada harga pangan di pasar. Negara-negara yang bergantung pada impor pupuk dan energi akan paling merasakan dampaknya.

Selain itu, negara-negara Teluk yang mengimpor hingga 90 persen kebutuhan pangan juga menghadapi risiko serius. Penutupan berkepanjangan Selat Hormuz dapat menguras cadangan pangan mereka dalam beberapa bulan.

Rekomendasi Berita