Jepang Siaga Megathrust Setelah Gempa M7,5

  • 10 Des 2025 10:11 WIB
  •  Gorontalo

KBRN, Gorontalo - Jepang berada dalam status siaga tinggi menyusul gempa berkekuatan 7,5 yang mengguncang wilayah utara pada Senin malam, memicu peringatan tsunami. Otoritas setempat menyatakan bahwa beberapa hari ke depan akan sangat krusial.

Gempa yang terjadi sekitar pukul 11:15 malam itu berlokasi di lepas pantai timur Prefektur Aomori dengan kedalaman 54 kilometer. Kota Hachinohe mencatatkan guncangan dengan intensitas 6 pada skala intensitas Jepang yang berkisar antara 0 hingga 7. Hingga pukul 5 sore pada hari Selasa, otoritas di Hokkaido, Aomori, dan Iwate melaporkan 33 orang terluka akibat gempa tersebut.

Gempa Produksi Gelombang Seismik Jangka Panjang

Gempa kali ini menghasilkan gelombang seismik jangka panjang yang dapat mempengaruhi bangunan bertingkat tinggi. Di beberapa bagian Prefektur Aomori, gelombang tersebut cukup kuat hingga menyulitkan orang-orang di gedung tinggi untuk tetap berdiri. Otoritas semula mengeluarkan peringatan tsunami untuk Prefektur Iwate, Hokkaido, dan Aomori, namun kemudian menurunkannya menjadi saran, dan mencabut semua peringatan tersebut pada pukul 6:20 pagi Selasa. Tsunami dengan ketinggian 70 sentimeter atau lebih dilaporkan di beberapa lokasi.

Peringatan Potensi Megathruster

Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengingatkan kemungkinan gempa besar dengan kekuatan 8 atau lebih di sepanjang Palung Jepang dan Palung Chishima yang berada di lepas pantai Hokkaido. Peringatan ini mencakup wilayah dari Hokkaido hingga Prefektur Chiba, dan ini adalah peringatan pertama yang dikeluarkan sejak kategori peringatan megathruster diperkenalkan pada 2022.

Pemerintah mendesak warga untuk memeriksa rute evakuasi, memastikan perabot rumah tangga aman, dan mempersiapkan perlengkapan darurat, termasuk makanan, air, dan toilet portabel. Meskipun belum ada rekomendasi evakuasi, mereka mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada hingga minggu depan.

Direktur Manajemen Bencana Kantor Kabinet Morikubo Tsukasa mengatakan bahwa data gempa global menunjukkan kemungkinan, bukan prediksi, terjadinya gempa besar sebagai dampak lanjutan di sepanjang palung tersebut.

Peringatan Hoaks dan Misinformasi

Sekretaris Kabinet Kihara Minoru meminta masyarakat untuk memanfaatkan sumber resmi atau situs media terpercaya untuk tetap mendapatkan informasi terbaru. Ia mengingatkan agar tidak mudah percaya pada informasi yang beredar, terutama yang tidak jelas kebenarannya, yang sering muncul setelah bencana.

Sekolah Tutup, Gangguan Air Bersih

Kementerian Pendidikan Jepang melaporkan 7 sekolah negeri di Prefektur Aomori mengalami kerusakan, termasuk pecahnya jendela. Sebanyak 139 sekolah di wilayah tersebut terpaksa ditutup pada hari Selasa akibat dampak gempa.

Kementerian Infrastruktur menyatakan bahwa sekitar 100 rumah tangga di Prefektur Aomori tidak memiliki pasokan air bersih pada pukul 1 siang pada hari Selasa.

Fasilitas Nuklir Tidak Melaporkan Kejanggalan

Perusahaan listrik yang memiliki fasilitas nuklir di wilayah tersebut, termasuk Tokyo Electric Power Company (TEPCO), melaporkan tidak ada kelainan yang terdeteksi di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi dan Daini. Meskipun demikian, TEPCO menghentikan pelepasan air yang telah diproses dari Fukushima Daiichi pada pukul 11:42 malam, sebagai tindakan pencegahan standar.

Selain itu, Tohoku Electric Power Company melaporkan tidak ada anomali di pembangkit listrik tenaga nuklir Higashidori di Prefektur Aomori maupun pembangkit Onagawa di Prefektur Miyagi. Hokkaido Electric Power Company juga melaporkan tidak ada masalah di pembangkit Tomari.

Gangguan Transportasi dan Evakuasi

Layanan kereta api cepat Tohoku Shinkansen antara Morioka dan Shin-Aomori sempat dihentikan pada hari Selasa, namun dilanjutkan kembali pada pukul 3:41 sore. Maskapai All Nippon Airways, Japan Airlines, dan Airdo juga melaporkan operasional berjalan seperti biasa.

Belajar dari Gempa Besar Jepang Timur

Menurut pemerintah, kemungkinan terjadinya gempa besar dalam seminggu ke depan diperkirakan sekitar satu banding seratus. Profesor Sekiya Naoya dari Universitas Tokyo mengatakan jika bencana besar terjadi, hingga 200.000 nyawa bisa melayang. Ia mendesak masyarakat untuk tidak mengabaikan risiko ini, namun menggunakan peringatan JMA sebagai pengingat untuk memeriksa persiapan mereka.

Rekomendasi Berita