UNESCO Tegaskan AI Harus Perkuat Integritas Radio
- 13 Feb 2026 16:04 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Direktur Jenderal UNESCO, Khaled El-Enany, menegaskan kecerdasan buatan (AI) harus dimanfaatkan untuk memperkuat, bukan melemahkan, integritas dan kredibilitas radio. Penegasan tersebut disampaikan dalam pesan resminya pada peringatan World Radio Day 2026, 13 Februari 2026, yang dirilis dilaman unesco.org.
Dalam pesannya, El-Enany menyebut radio selama ini menjadi pilar kebebasan berekspresi, pendukung keberagaman budaya, serta sarana pendidikan dan dialog publik. Di tengah krisis maupun kehidupan sehari-hari, radio dinilai tetap menjadi salah satu sumber informasi paling tepercaya dan mudah diakses, terutama bagi kelompok yang kerap terpinggirkan.
Namun, menurutnya, radio kini menghadapi perubahan besar seiring perkembangan teknologi AI. Di satu sisi, AI membuka peluang baru bagi lembaga penyiaran untuk memproduksi konten lebih efisien, memahami preferensi audiens, serta menjangkau pasar yang lebih luas. Teknologi terjemahan dan transkripsi juga membantu mengatasi hambatan bahasa dan memperkuat penggunaan bahasa masyarakat adat serta kelompok minoritas.
Di sisi lain, ia mengingatkan penyalahgunaan AI dapat mengancam kepercayaan publik. Konten hasil AI, termasuk deepfake dan simulasi suara, berpotensi menyebarkan disinformasi serta mengaburkan batas antara fakta dan manipulasi. “Yang dipertaruhkan adalah esensi radio itu sendiri: kredibilitas, integritas, dan suara manusianya,” demikian ditegaskan dalam pesan tersebut.
Pada World Radio Day tahun ini, UNESCO mengangkat tema “Artificial Intelligence is a Tool, Not a Voice”. Tema tersebut menekankan bahwa AI merupakan alat bantu, bukan pengganti peran manusia dalam penyiaran.
UNESCO juga mendorong seluruh lembaga penyiaran mengadopsi kerangka etika yang jelas dalam penggunaan AI, sejalan dengan Rekomendasi 2021 tentang Etika Kecerdasan Buatan. Prinsip transparansi, perlindungan data, serta perlindungan dari manipulasi menjadi hal utama. Penguatan kapasitas sumber daya manusia, terutama bagi stasiun kecil, independen, dan komunitas, turut menjadi perhatian.
Sebagai bagian dari dukungan konkret, UNESCO bekerja sama dengan Radio Begum meluncurkan program siaran mingguan “Tabasum” yang ditujukan bagi perempuan dan anak perempuan Afghanistan yang dilarang mengakses pendidikan dan ruang publik. Inisiatif ini menunjukkan radio tetap dapat menjadi penyambung harapan di tengah situasi sulit.
UNESCO mencatat lebih dari 750 kegiatan di 170 negara telah terdaftar dalam rangkaian peringatan World Radio Day 2026. Organisasi tersebut mengajak seluruh pemangku kepentingan, dari penyiar besar hingga radio komunitas, untuk berpartisipasi dan memastikan AI dimanfaatkan demi kepentingan publik.